Senin, 20 April 2009

Tanggung Jawab Muslim Terhadap Kelestarian Agama

Tanggung Jawab Muslim Terhadap Kelestarian Agama
Saudar-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Allah berfirman dalam Q.S Ali- Imran:110 yang
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Seorang Islam adalah dia yang berbahagia melihat oarang lain berda dalam kebahagiaan, khususnya apabila ia bahagia disebabakan oleh dirinya. Ia bersedih melihat orng lain dalam kesulitan, khususnya apbila kesulitan itu disebabkan oleh dirinya. Islam menganjurkan kehidupan yang aktif dalam kehidupan sosial yang kreatif dan bukan mengasingkan diri dari masyarakat atau berhubungan dengan Allah semata. Islam mewajibkan untuk mencari bagian akhirat dan tidak menagbaikan bagian dunia. Maka bukanlah seorang muslim yang benar ynag hany mengasingkan diri dan tafakkur. Bukanlah muslim yang benar yang hany bersemedi di dalam masjid mencari ridli Allah dan rahmatNya. Sebaliknya bukanlah bukanlah seorang muslim yang benar orang yang hany memburu kekayaan tiada ingat akan kewajiban agamanya. Bukanlah seorang muslim yang benar yang hany mengumpulkan harta dunia dan menghitung-hitungnya dan melupakan Tuhanya. Dan bukanlah seorang muslim yang benar yang hidupnya hanya demi urusan dunia.
Generasi muslim yang saya hormati
Tugas kita sekarang adalah menunjukkan identitas Islam, berinteraksi dengan masyarakat dengan akhlak yang baik, walaupun seandainya kita hidup dimasayarakat kafir. Ibaratnya Islam adalah sebuah gedung maka akhlak adalah tiangnya yang wajib ditegakkan oleh setiap muslim. Maka barang siapa yang menegakkan berarti menegakkan agama. Dan barang siapa yang mengabaikanya berarti merobohkan Agama. Dalam hal ini Allah berfirman dalam (Q.S Al-Baqarah:112) yang Artinya: (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Dalam upaya menegakkan akhlak, seorang muslim harus mengisi jiwanya dengan ajaran Islam secara menyeluruh, sehingga ia betul-betul kenal akan Tuhanya dan betul-betul menyadari hakekat hidup. Maka segala perintah Tuhan akan dijalaniya denga suka hati tanpa dirasakany sebagai beban. Segala hal yang Tuhan larang akan dijalaninya dengan penuh keikhlasan.
Mengisi jiwa dengan ajaran Islam secara menyeluruh akan menjadikan seorang muslim berakhlakul karimah secarah tulis kepada Allah SWT. Dan dengan dengan ketulusanya itu serang muslim akan relahati pula berakhlakul karimah terhadap sesama manusia serta kapada sesama makhluk pada umumnya.dengan demikian maka menjadi tegaklah akhlak Islam pada diri muslim. Hal tersebut tentu akan mrndapat sambutan hangat dari sisi Allah SWT, bahwa seorang muslim telah mengamalkan ajaraNya dengan baik dan benar. Dia akn menilainya sebagai seorang muslim yang benar-benar menegakkan AgamNya. Ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain.
Pernyataan tersebut seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini. Istilah Emha ainun Njib, tanyakanlah pada diri kita, apakah kita ini manusia wajib, sunnah,mubah,makruh atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau keberadaanya sangat dirindukan, sangat bermanfaatperilakunya membuat hati orang disekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantarnya, dia serang pemalu, jarnag mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku keseharianya lebih banyak kebaikanya. Ucapany senantiasa terpelihara, ia hemat dengan kat-katanya. Sehingga ia lebiha banyak berbuat dari pada berbicara. Sedang orang yang sunnah keberadaanya bermanfaat, tetapi kalaupun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat kehilangan rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. orang yang mubah keberadaanya tidak berpengaruh.ada dan tidaknya tidak membawa manfaat, tidak juga membawa madhorot.
Adapun orang yang makruh, keberadaanya justru membawa madhorot, kalau dia tidak ada , tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang kesuatu tempat maka orang merasa bosan dan tidak senang. Apalagi dengan orang yang bertipe haram, keberadaanya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaanya malah disyukuri.
MasyaAllah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak. Tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat manfaat tidak dengan kehadiran kita?. Adanya kita di masayarakat sebagai manusia apakah wajib, sunnah, mubah makruh atau haram?
Kepada ibu-ibu, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing. Apakah anak kita sudah merasa bangga mempunyai ibu seperti kita? Punya manfaat tidak kita ini? Bagi Ayah cobalah mengukur diri, saya ini seporanh ayah atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada seorang muballigh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebrnaran atau hanya mencari penghargaan atau hanya mencari popularitas saja?
Jadi konsekuensi logis dari penilaian Allah SWT terhadap seorang muslim yang benar adalah menegakkan Agamanya. Dia akan memberi balasan yang amat menyenagkan, yakni berupa kebahagiaan hidup tidak hany di dunia fana ini, melainkan juga kebahagiaan yang berkelanggengan di akhirat kelak.
Hadirin Rohimakumullah
Umur itu bagaikan awan yang berlalu. Sekali melintas maka selamanya ia tak kan kembali. Karena itu selagi kita masih hidup dan mempunyai kesempatan, maka pergunakanlah umur yang demikian berharga itu untuk menunaikan tanggung jawab sebagai muslim, yakni dengan menumpuk amal sholeh sebanyak-banyaknya. Sungguh merugi bagi seseorang yang tidak menggunakan umurnya dengan baik. Kesempatan hanya datang satu kali dan setelah itu dihadapkan kepada Allah SWT untuk mempertanggung jawabkanya apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Firman Allah dalam Q.S Al-Asyr :1-3 yang Artinya:. Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Demikian pentingnya kegunaan waktu (umur) ini, samapai-sampai Allah bersumpah dengan menyebut Ashr. Dalam kaitanya dengan hal ini Imam Syafi’I pernah mengatakan: jika sekiranya Al-Quran itu terdiri hanya terdiri dari satu surat saja, maka surat itu adalah Al-Ashr karena itu sudah cukip mrnjadi pedoman umat manusia.
Hadirin yang saya hormati
Seandainya masing-masing kita memiliki keteguhan seperti baginda Rasul SAW memperjuagkan Agama walau badai rintanga terus menghantam. Dalam hal ini terdapat kisah menarikdari baginda Rasul SAW sebagai contoh untuk kita agar teguh mekestarikan agama Allah SWT. Suatu ketika, Abu Lahab menjerat leher leher Nabi SAW dengan selendang ketika Rasulullah SAW telah kritis, muncul Abu Bakar yang langsung mendorong Abu Lahab hingga ia terjengkang dan belitanya terlepas. Meski untuk itu Abu Bakar kemudian menjadi sasaran siksaan Abu Lahab dan teman-temanya hingga terluka parah karenanya.
Tidak hanya Abu Lahab, Uqhbah bin Abu Muith pun melakukan tindakan yang menggangu Nabi Muhammad SAW secara langsung. Uqbah meletakkan darah dan isi perut unta yang sangat menjijikkan ke pungginga Nabi Muhammad SAW ketika beliau telah melaksanakan sholat di depan ka’bah. Fatimah puteri bungsu Rasulullah SAWyang membersihkan kotoran itu dari punggung ayah handanya.
Kaum kafir Quraisy juga mendatangi Abu Thalib dan meminta agar Abu Thalib meminta keponakanya itu menghentikan dakwahnya. Abu Thalib memanag menyampaikanya, namuna Rasulullah SAW dengan tegas menyataka,” wahai paman, Demi Allah! Sekiranya mereka meletakkan matahari disebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku meninggalakan dakwahku hingga ia tersiar di muka bumi ini atau aku akan binasa karenanya, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalakan dakwahku ini.
Mengetahui kekukuhansikap keponakanya. Abu Thalib menyatakan perlindunganya pada ponakan tercintanay itu. Ia melindungi keponakanya itu dengan segala kekuatandan kemampuan yang ada pada dirinya.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Dari cuplikan kisah diatas semoga mampu membagkitkan semangat, motivasi dan inspirasi kita. Karena begitu besartantangan dan hambatan yang dihadapi. Namuan ternyata keimanan, ketakwaan serta keteguhan hati Rasulullah SAW untuk berjuang di jalan Sang khalik, jauh lebih kuat dibandingkan tantangan, godaan dan hambatan yang ada. Sungguh rieayat tersebut patiut diteladani oleh kita, sekalipun kita hidup di zaman yang berbeda.

Daftar pustaka
Abdul Halim,M Nipan. Menghias Diri Dengan Akhlak Terpuji. Yogyakarta. Mitra Pustaka. 2000
Ibnu Atho’illah Assukandari. Pelita Hati. Surabaya. Bintang Usaha Jaya.tt
Komando,Gemal. Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul. Yogyakarta. Sketsa. 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar