Senin, 20 April 2009

Peranan Keluarga Dalam Islam

PERANAN KELUARGA DALAM MASYARAKAT ISLAM
Hadirin Rohimakumullah
Masyarakat Islam tersusun dari individu-individu dan keluarga-keluarga yang di perintah oleh undang-undang yang diberikan oleh Al-Quran dan sunnah. Maka sepatutnya bagi muslim tidak mengabaikan tanggung jawab dalam keluarga. Allah berfirma dalam Q.S Annisa’:19
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (١٩)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak

Terwujudnya bahagia dunia akhirat atau kadang diistilahkan surga dunia akhirat
merupakan impian semua orang. Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu
indah. Padahal sebetulnya? Indah ...sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari
dulu menikah.
Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik. Allah SWT berfirman dalam Q.S Annisa’:34 yang artinya
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena itu Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena itu Allah Telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapai tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda.

Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Pada kesempatan pertama, insya Allah kita akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kita.
1. Siap dengan hal yang tidak kita duga
Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama "gelombangnya" dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan., misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.
2. Memperbanyak pesan
Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memperbanyak pesan, “aku”. Sebab, umumnya makin orang lain mengetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan "Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,.... jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok." Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: "Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu."
Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akaibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yag kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku. Dengan demikian ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain. Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: "Pak... saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak...kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak..."

Hadirin Rohimakumullah
Makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing , Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi. Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan. Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri.
Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.


3. Tentang aturan
Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus...sosialisasikan!
Firman Allah dalam Q.S Azzukhruf:18
أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ (١٨)
Artinya : Dan Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam Keadaan berperhiasan sedang Dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.

Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.

Hadirin Rohimakumullah
Dalam satu riwayat diceritakan,pada suatu hari ketika salman Al-farisi tengah mengunjungi kediaman Abu darda’ dia melihat isteri abu darda’ bermuram durja,ketika ditanya apa yang membuatnya nampak sedih?isteri abu darda’ berkata bahwa dia menghawatirkan suaminya yang begitu asyiknya memperbanyak ibadah tetapi agaknya menjadi kurang perhatian pada urusan keluarga. Maka salman pun meminta izin abu darda’ untuk bermalam dan memperoleh izain saat tinggal dirumah abu darda’, salman disuguhi makanan yang enak, dan dipersilahkan makan. Namun abu darda’ sendiri tidak bersiap maka karena tengah berpuasa. Maka salmanpun berkata,”aku tidak akan makan kecuali engkaupun ikut makan.” Abu darda’ menjelaskan bahwa dia tengah berpuasa sunnah dan meminta Salman untuk makan sendiri. Namun salman yang tahu bahwa sudah berhari-hari puasa sunnah berkeras pula tidak akan makan kecuali ditemani makan, hingga Abu Darda’pun akhirnya menemaninya makan. Begitu pula dimalam hari,ketika hari sudah larut, Abu Darda’ yanag tengah bersiap-siap untuk sholat malam melihat tamunya belum tidur. Maka Abu Darda’ pun meminat Salman untuk beristirahat dan tidur.tetapi Salman lagi-lagi berkata, “Aku tidak akan tidur kecuali engkaupun tidur.” Abu darda’ menjelaskan bahw dia telah terbiasa melakukan ibadah disepanjang malam dan karenanya mempersilahkan Salman untuk tidur saja namun salman berkeras tidak akan tidur kalau dia melihat abu darda’pun tidak tidur. Maka akhirnya abu dardapun tidur malam itu. Begitu,pada hari trakhir Salman menginap, dia menasehati sahabatny Abu Darda’, ”saudaraku, sungguh luar biasa baiknya ibadah-ibadah yang engkau lakukan. Semoga Allah menerima semua amal ibadahmu namun ingatlah bahwa Rosulullah SAW sendiri telah mengingatkan bahkan diri kita, keluarga kita sendiripunya hak yang harus ditunaikan dan diperhatikan,” Salman dengan penuh kelembutan mengingatkan Abu Darda’ untuk tidak setiap hari berpuasa dan setiap hari shalat malam tetapi juga menyisihkan hari-hari agar dapat makan bersama keluarga dan beristirahat bersama keluarga diwaktu malam. Karena contoh langsung dari Salman ini, Abu Darda’ pun tersadar bahwa dia hampir saja melalaikan kebersamaan dalam keluarganya.
Dari riwayat diatas maka jelas bahwa kita sebagai muslim sepatutnya tidak melalaikan dan meninggalakan tanggung jawab terhadap keluarga meskipun dalam hal keluarga karena semua itu adalah merupakan tanggung jawab terhadap agama.




Daftar pustaka

Gymnastyar,Abdullah. Rumah Tangga Yang Menyenagkan, Bandung , Bundel UGLY, 2002
Jamil,Zilvera. Kisah Islami, Bandung, Majalah Ummi, 2008
Khasbullah, Azizi. Keluarga Bahagia, Blitar, Hidayatul Mubtadi’at, 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar