Senin, 20 April 2009

Puasa Adalah Ibadah Yang Unik

PUASA ADALAH IBADAH YANG UNIK

Bulan suci ramadhan mempunyai kedudukan yang istimewa dalam Islam. Setiap orang dari masyarakat Islam begitu antusias menyambut bulan yang penuh barokah ini. Menjelang ramadhan kita begitu khusyu’ menjalankan ritualitas yang diperintahkan agama pada bulan puasa mulai dari taraweh, Qiyamullail, zakat fitrah dan lain-lain. Ritualitas yang sifatnya sunnah,masjid dan surau rame dengan bacaan kalam illahi, jamaah yang memadatipun tidak seperti bulan-bulan biasa ramai dan padat. Namun ketika Ramadhan meninggalkan kita, kitapun meninggalkan ritualitas istiqomah yang kita lakukan dibulan ramadhan, lagi-lagi ramadhan kita tidak pernah merasakan ekses domino dari bulan ramadhan, apalagi berbagai tempat hiburan yang berbau maksiat kembali dibuka ditambah lagi dengan tayangan-tayangan televisi yang notabenenya merusak moral generasi mendatang. Padahal seperti yang kita ketahui menjalankan ritual puasa tidak hanya di bulan ramadhan saja. Sunnah nabi menganjurkan orang-orang Islam untuk berpuasa dengan serius, untuk menghindari perbuatan atau ucapan yang dapat merusak puasa atau membatalkannya. Kata puasa adalah terjemahan dari bahasa Arab yakni shaum sedang secara harfiah berarti diam dan menahan, Allah menjelaskan di dalam firman-Nya surat Maryam ayat 26
.... إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (٢٦)
Artinya : Aku bernadzar kepada Allah untuk berpuasa maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini (QS Maryam: 26)

Puasa di dalam ayat ini berarti berhenti berbicara atau diam. Makna shaum atau puasa dalam ajaran islam ialah menahan diri dari segala yang membatalkannya, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari yang disertai niat oleh yang bersangkutan. Dalam ajaran islam kesempurnaan puasa akan diraih jika puasa tersebut dibarengi dengan menjauhi segala yang dilarang agama, yaitu sekali-kali tidak terjerumus dalam sikap dan tindakan yang terlarang, dengan demikian puasa itu mengandung pengertian menahan diri dari syahwat yang bersifat lahiriah yakni makan minum hubungan sexsual dan segala sesuatu yang bersifat inderawi, dan dari sikap dan betikan syahwat bersifat rohaniah.
Perbuatan menahan diri itu dilakukan pada jangka waktu tertentu oleh orang tertentu yang berkelayakan secara hukum untuk melaksanakannya yakni disebut orang mukallaf diantaranya adalah muslim berakal suci dari hadats besar dan berniat puasa untuk ibadah. Diceritakan dalam suatu riwayat bahwa suatu ketika rasulullah pernah berkata kepada aisyah ra sesungguhnya setan masuk ke dalam tubuh anak adam mengikuti jalannya darah maka sempitkanlah dengan rasa lapar oleh sebab itu beliau berkata kepada aisyah wahai aisyah: seringlah mengetuk pintu surga
Aisyah berkata: dengan apa wahai rasulullah? Rasulullah saw menjawab dengan rasa lapar ” andai saja setan-setan tidak berkeliaran di hati anak adam tentulah mereka melihat kepada kerajaan langit. Puasa tersebut membantu mematahkan sahwat. keistimewaan lain dari puasa adalah, puasa dapat menghapus dosa ,Allah berfirman dalam Al-quran:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (٣٥)
Artinya : Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(Qs,Al-Ahzab:35)

Wahai saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Ketahuilah sesungguhnya bulan puasa ditetapkan oleh hilal (bulan sabit) di bulan ramadhan dengan perkataan laki-laki yang adil sedangkan hilal syahwal tidak ditetapkan melainkan dengan perkataan dua orang laki-laki adil baik hal tersebut diputuskan oleh qadhi atau pemimpin-pemimpin negara ataupun tidak maka setiap orang mengamalkan menurut dugaannya yang terbesar serta harus berniat di waktu malam
Ada 3 derajat puasa umum puasa khusus dan puasa yang khusus dari yang khusus, puasa umum ialah menahan perut serta kemaluan dari memenuhi sahwat sedangkan puasa khusus ialah mencegah pendengaran lisan, tangan, serta kaki dan anggota tubuh dari dosa adapun yang dinamakan puasa khusus dari yang khusus ialah puasa hati dari kemauan-kemauan yang rendah dan pikiran duniawi serta mencegahnya dari yang selain Allah secara keseluruhan ada 5 perkara yang merusak hakikat puasa:
1. Dusta
2. Hibah atau menggunjing orang
3. Nanimah atau mengadu domba
4. Sumpah dusta serta pandangan dengan sahwat
5. Memelihara anggota-anggota tubuh dari maksiat harus dilakukan dengan puasa yang khusus patutlah seseorang tidak makan terlalu banyak dari makanan yang halal supaya tidak memenuhi perut, sebab hal tersebut dibenci Allah Swt patutlah hati seseorang menjadi bimbang antara harapan akan ridha Allah serta rasa takut apakah puasanya diterima atau hanya lapar haus atau payah? Adakalanya seseorang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan lapar dan payah sebab yang dimaksud denag puasa itu adalah meneka sahwat dan bukan hanya terbatas Pada ketiadaan makan dan minum. Barangkali hal itu yng memandang dari yang terlarang yakni melakuakn hibah nanimah ataupun berdusta maka semua itu dapat membatalkan puasa. firman Allah dalam surat Al-baqaroh:183
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)
Artinya Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Wahai saudaraku yang dirahmati Allah
Keutamaan ibadah puasa itu sangat besar diantara dalil yang menyebutkan keutamaannya dari hadis-hadis yang yang shahih menyebutkan bahwa ibada puasa telah ditetapkan oleh Allah hanya untuk diri-Nya dan bahwa dia sendirilah yang akan membalas pelakunya dengan pahala yang berlipat ganda tanpa perhitungan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis-hadis qudsi dan hadis-hadis lainya seperti berikut;
الا الصيام فإنه لى وأنا اجزي به
Artinya : Kecuali puasa,sesungguhya puasa hanyalah untuk-Ku maka aku sendirilah yang langsung membalasnya.(H.R Bukhari).

Ibadah puasa mengandung banyak faedah dan hikmah yang semuanya bermura untuk mermbentuk ketakwaan penjelasanya ialah bahwa jika manusia itu apabila mampu menahan dirinya dari yang halal demi meraih ridha Allah dan takut kepada hukum-Nya maka terlebih lagi kemampuannya untuk menahan diri dari yang diharaamkan oleh-Nya. Manusia itu apabila perutnya meras lapar maka dengan sendirinya akan tergugahlah akan tetapi sebaliknya apabila perutnya merasa kenyang maka dengan sendirinya lisan,kedua mata tanga dan kemaluanya akan merasa lapar,puasa adalah sarana yang paling ampuh untuk mengalahkan syetan, menghancurkan birahi dan memelihara seluruh anggota tubuh.
Orang yang puasa apabila mulai merasakan pedihnya lapar dengan sendirinya akan merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum fakir-miskin, sehingga mendorongnya untuk menyayangi dan memberi mereka bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka yang tidak memadai. Demikian itu karena sesungguhnya pengaruh yang ditimbulkan oleh pengalaman sendiri tidaklah sama dengan apa yang didengar dari berita, dan seorang yang biasa berkendaraan tidaka akan dapat merasakan derita yang dialami oleh pejalan kaki, kecuali jika ia mau jalan kaki juga.
Ibadah puasa akan mendidik karsa seorang hamba agar terbiasa mengekang kemauan hawa nafsunya, dan menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan. Karena dengan puasa seseorang dituntut untuk menundukkan nalurinya dan menyapih kemauan hawa nafsu dari kebiasaan yang disukainya. Dan sekaligus puasa melatihnya untuk bersikap disiplin dan tepat waktu yang menjadi kendala besar di kalangan kebanyakan orang-orang yang tidak teratur pola hidupnya, meskipun mereka menyadari kekeliruannya.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Al-Fikrah, Setelah 30 Hari Bertapa ,Al-fikrah,2005.
Juhaya, Tafsir Hikmah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2000.
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Surabaya, Tiga dua,2004
Shahih Al-Munajid, Muhammad.70 Fatwa Kotemporer Puasa, Bandung,2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar