Senin, 20 April 2009

menata qolbu

MENATA QALBU (HATI)

Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah!
Rosulullah SAW bersabda:
إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذاَ صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذاَ فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
“Sesungguhnya dalam tubuh anak adam terdapat segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, ia adalah hati”. (H.R Bukhari Muslim)

Pada lafadz qalbu bisa ditetapkan untuk dua arti, pertama daging yang terdapat di dalam dada sebelah kiri serta di dalam rongganya berisi darah hitam. Biasanya daging yang bentuknya seperti itu terdapat pada hewan serta orang yang sudah mati.
Yang kedua adalah bisikan rabbaniyah ruhaniyah yang mempunyai satu hubungan dengan daging ini. Bisikan inilah yang mengenal Allah SWT serta memahami apa yang tidak dapat dijangkau oleh khayalan serta angan-angan, dan itulah hakekat manusia serta dialah yang diseru. Allah berfirman dalam QS. Qaaf: 37
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ (٣٧)
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya”.

Bila mana dengan qalbu di sini ialah jantung, maka ia terdapat pada semua orang. Maka ketahuilah bahwa kaitan bisikan ini ialah kaitan yang bersamar tidak dapat dijangkau dengan penjelasan, akan tetapi tergantung pada penyaksian. Hanyalah dikatakan bahwa bisikan hati itu seperti raja serta daging ini seperti gedung dan kerajaan sebab kalau hubungannya seperti benda-benda maka tidaklah bisa dikatakan.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Anfal:24 yang Artinya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Saudara-saudaraku Rahimakumullah!
Di dalam tubuh ini ada akal, jasad, dan qalbu. Akal membuat orang bisa bertindak lebih efektif dan efisien dalam melakukan apa yang ia inginkan. Sedangkan tubuh bertugas melakukan apa yang diperintahkan oleh akal. Sebagai contoh, apabila akal menginginkan tubuh mampu berkelahi, maka tubuh akan berlatih agar menjadi kuat. Sayangnya, tidak sedikit orang yang cerdas, orang yang begitu gagah perkasa, tapi tidak menjadi mulia, bahkan sebagian diantaranya membuat kehinaan karena berbuat jahat. Mengapa? Sebab ada satu yang membimbing akal dan tubuh yang belum diefektifkan, itulah qalbu. Kita ambil contoh lain, sebuah mikrofon bisa menjadi alat provokasi kejahatan, bisa juga jadi alat dakwah dan menyampaikan ilmu, sebuah mikrofon bisa juga menjadi alat bantu berbicara sehingga menjadi fasih, itulah fungsi mikrofon. Artinya, yang menentukan isi dari bahasa yang keluar darinya adalah qalbu. Dalam hal ini Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging yang jika ia baik maka baik pula yang lainnya, sebaliknya yang apabila ia jelek maka jeleklah semuanya. Dan yang dimaksud daging itu ialah qalbu.
Jadi, yang terpenting dari manusia ternyata bukan kecerdasannya saja, tapi yang membimbing cerdasnya otak menjadi benar, yang membimbing kuatnya fisik menjadi benar. Di situlah fungsi qalbu. Oleh karenanya, menjadi cerdas belum tentu mulia, kecuali kecerdasannya dipakai untuk berbuat kebenaran. Menjadi kuat belum tentu mulia, kecuali kekuatannya di jalan yang benar.
Di dalam qalbu ini ada yang disebut potensi, faalhamahaa fujuu rahaa wa taqwaaha (QS. Asy-Syams: 8), "Dan diilhamkan kepadanya yang salah dan yang taqwa (benar)". Begitulah, qalbu ini punya potensi negatif dan potensi positif. Allah telah menyiapkan keduanya dengan adil. Dan disinilah pentingnya fungsi manajemen. Manajemen secara sederhana berarti pengelolaan dan pentadhiran. Sebuah sistem dengan manajemen yang baik, dengan pengelolaan yang baik, sekecil apapun potensi yang dimiliki, Insya Allah akan membuahkan hasil yang optimal. Negara Singapura, misalnya, tidak punya Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, bahkan untuk mencukupi kebutuhan air minumnya saja, Singapura harus mengimpornya dari Johor, Malaysia. disisi lain ternyata mereka berhasil mengelola Sumber Daya Manusia (SDM)-nya, sehingga walaupun SDA-nya minim, tapi SDM-nya mampu diberdayakan secara optimal. Hasilnya, kini Singapura menjadi jauh lebih makmur daripada Indonesia yang alamnya sangat kaya raya. Mengapa? Ya, itu tadi, karena bangsa kita lemah dalam manajemennya.
Dapat dipahami pula bahwa kita tidak berakhlak mulia bukan karena tidak punya potensi, tapi karena manajemen diri kita yang masih buruk. Sungguh kita mampu mengelola otak kita menjadi cerdas, membaca dengan kecepatan 400 kpm, memiliki daya ingat yang kuat, yakinlah itu bisa dilakukan. Kita bisa kelola fisik sehingga mampu melakukan sebuah gerakan beladiri demikian sempurna, pukulannya demikian akurat, tapi itu tidak cukup kalau hatinya tidak dikelola dengan baik. Karena semua itu tidak akan memiliki nilai positif jika hatinya tidak dikelola dengan baik. Begitulah. Hati menentukan nilai; mulia atau hina. Jangan aneh bila ada orang cerdas, tapi tidak mulia hidupnya. Bukan karena kurang cerdas, tapi kecerdasannya tidak dibimbing oleh hatinya.
Oleh karena itulah, orang yang pandai mengelola hatinya, ketika tiba-tiba, misalnya, dihina orang, dia akan kelola penghinaan ini menjadi sesuatu yang manfaat, "Ah, dia memang menghina, namun siapa tahu penghinaan ini bagian dari karunia Allah untuk memberitahu kekurangan saya, selain itu saya pun bisa melatih kesabaran, bedanya khan dia baru bisa menghina, saya bisa mengatakan yang baik kepadanya." Begitulah, sikap terhadap hinaan ternyata bergantung manajemen qalbunya. Saat lain ia diuji sedang sakit, lalu qalbunya kembali ia kelola dengan seoptimal-optimalnya. "Sakit bagi saya adalah proses evaluasi diri, proses pengguguran dosa", demikianlah ia pahamkan di hatinya tentang makna sakit. Akibatnya, sakit menjadi tidak menyengsarakan, melainkan penuh hikmah yang mendalam, karena dia berhasil mengelola hatinya. dalam menyikapi hal tersebut terdapat sebuah kisah menarik. Suatu hari badan Nabi Ayub menjadi merah, hari berikutnya, seluruh badan beliau kudisan lalu menggaruk tubuhnya karena gatal, karena terus digaruk, maka timbullah borok-borok. Segera borok tersebut menyebar keseluruh tubuhnya. Nanahpun mulai menetes dari semua lubang yang trbuka untuk jalan ulat-ulat. Dengan cepat pula ulat-iulat memenuhi seluruh tubuh Nabi Ayub dari kepala sampai kaki. Ulat-ulat pun mulai memakan daging Nabi Ayub. Dikisahkan bahwa salah satu ulat jatuh dari badan Nabi Ayub. Dia memungutnya dan meletakkan nya kembali pada salah satu anggota badanya. Dia berkata,”kenapa kamu lari padahal Allah telah menetapkanmu di sini.”
Selain kepalanya,lidah, mata dan hati, tiada lagi yang berfungsi di dalam badanya. Dari saat itu semua orang yang tadinya dekat denganya,mulai meniggalkanya. Memang ini hal yang wajar di dunia. Apabila anda kaya, orang –orang akan mengerumuuni anda seperti tawon mengerubungi bunga. Jika seorang ditimpa kenalangan, maka tiada seorangpun yang mau bergabung denganya.semua orang meninggalkan Nabi Ayub kecuali isterinya Rahma, dia menggunakan upaya demi suaminya hingga penderitaanya hilang. Dalam keadaan yang mengerikan itu Nabi Ayub tidak merasa jemu bahkan tetap sabar menghadapi kemalanganya.keajaiban hati dalam menjalani kesabaran selalu memberi contoh jika kita benar-benar memiliki hati yang bersih bagaimana bisa kita berpaling dariNya sekalipun dalam keadaan malang dan banyak masalah. , Lelah, tersinggung, terhina, kekurangan uang, tertimpa penyakit, dan masih begitu banyak lagi masalah yang akan membuat orang menjadi goyah, tapi kalau terkelola hatinya, Subhanallah, ia akan tetap punya nilai produktif. Anehnya, banyak orang yang sangat sibuk memikirkan kecerdasannya, memikirkan kesehatan fisiknya, tapi sangat sedikit memikirkan kondisi hatinya. Kalaulah kita harus memilih, seharusnya kita banyak meluangkan waktu untuk memikirkan tentang qalbu ini. Karena jika qalbu ini baik, yang lainnya pun menjadi baik, Insya Allah.

Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah!
Hati diumpamakan sebagai cermin sebab selama ia jernih dari karat serta kotoran, maka dapatlah ia melihat segala sesuatu. Jikalau karat itu menutupinya serta tidak ada yang menggosoknya untuk menghilangkan karatnya, maka iapun akan ditutupi karat serta kotoran-kotoran itu sendiri, kemudian akhirnya binasa, serta akibatnya ia binasa dan tidak dapat dibersihkan. Suatu ketika ada yang bertanya pada Rosul,
Ya Rasulullah bagaimanakah cara menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel dalam hati seperti besi yang berkarat?
Rasulullah menjawab: “Ingatlah mati serta membaca Al-Qur'an”. Jikalau gagal seluruhnya dalam menata hati, maka syetan juga akan berkuasa serta sifat-sifat terpuji akan berubah menjadi tercela.
Manusia dalam asal fitrah dan bentuknya telah berkumpul padanya 4 sifat, yakni sifat-sifat hewan buas, binatang, syetan serta Rabban. Pada saat marah sedang menguasainya maka iapun melakukan perbuatan-perbuatan hewan buas, pada saat syahwat menguasainya, ia telah melakukan perbuatan-perbuatan binatang, serta akan memiliki kedua sifat ini. Ia juga telah diliputi cinta akan kejahatan, penindasan, dan tipu daya yang merupakan perbuatan syetan.

Hadirin Rahimakumullah!
Sesungguhnya penglihatan hati serta terangnya dapat terwujud dengan mengingat Allah SWT. Ketakwaanlah sebagai pintu untuk mengingat Allah SWT. Sedang Dzikir adalah pintu kasyaf, sedang kasyaf diumpamakan sebuah cermin dan ilmu diumpamakan sebuah gambar yang terlihat pada cermin. Itulah ibarat sebuah tempat, jika kita menginginkan tatanan yang bagus dan terlihat bersih maka kita harus membersihkannya dari kotoran-kotoran yang bertebaran, sebaliknya jika kita bersikap acuh maka hati akan menjadi kotor dan disinggahi penyakit akibatnya adalah pada diri kita sendiri bahkan pada orang lain. Tapi jika kita mampu merawatnya dengan baik segala aktivitas yang kita lakukan akan terasa adem ayem.
Disebutkan dalam salah satu nasyid:
Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya Ilahi
Bila hati kian bersih pikiran pun akan jernih
Semangat hidupkan gigih prestasi mudah diraih
Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh. Dengan Allah kian jauh.


DAFTAR PUSTAKA


Imam Al-Ghozali, Ihya’ Ulumuddin. Surabaya: Tiga Dua, 2004.

Gymnastiar, Abdullah. Manajemen Qalbu, Bandung: Bundel UGLY, 2002

Yassin Owdally,Muhammad. Kesabaran Nabi Ayub As,Bandung, Marja’, 2003

Tim Al-Fikrah, Muhasabah, Gresik, Majalah Al-Fikrah, 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar