AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP
Dalam Q.S Yunus:108 Allah berfirman yang artinya,
Katakanlah: "Hai manusia, Sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk Maka Sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. dan barangsiapa yang sesat, Maka Sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. dan Aku bukanlah seorang Penjaga terhadap dirimu".
Itulah yang diterangkan Allah kepada kita, bahwa Al-Qur'an tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk untuk kita bertakwa kepada Allah dan menjalankan segala perintah-Nya, yaitu untuk kita yang beriman kepada yang ghaib dan Al-Qur’an juga sebagai petunjuk untuk mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizki yang Allah berikan kepada kita agar kita beruntung di dunia dan akhirat nanti. Dengan demikian apabila kita maumenjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk Allah untuk mengerjakan segala perintahnya, maka yang demikian itu tentu orang – orang yang mendapat petunjuk dari sisi Allah karena tiada keraguan di dalamnya, Allah sendiri telah menerangkan dalam ayat-ayatnya, diantaranya adalah:
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٣)
Artinya “Dan jika kamu ragu terhadap Al Quran yang telah kamu turunkan kepada hamba kami, maka buatlah satu surat seperti yang telah kami terangkan dalam Al Quran dan panggillah saksi-saksimu sebagai penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Al Baqoroh : 23)
Wahai saudaraku yang mudah-mudahan dimuliakan Allah
Janganlah kita mencampuradukkan yang hak dengan yang batil yaitu kita mempersamakan petunjuk Allah yang hak dengan petunjuk yang lain. karena seorangpun tidak ada yang mengetahui apa yang di kehendaki Allah dalam mengerjakan perintahnya kecuali Allah sendiri. Maka jika Allah tidak memberi petunjuk kepada kita niscaya kita akan menemui kesalahan dan kesulitan dalam mengerjakan perintah-Nya. Sebenarnya manusia dapat berbuat sesuatu dengan benar dengan kemampuanya sendiri karena ia diberi panca indera dan otak tapi bagaimanapun mereka berusaha untuk memberi petunjuk kepada manusia menuju keputusan yang benar ,suatu ketika mereka akan mengalami kesalahan ,karena bagaimanapun keadaannya petunjuk Allah SWT. selalu dibutuhkan. Al-quran menurut bahasa adalah Bacaan. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepad nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yang disampaikan kepada umatnya. Barang siapa yang membaca dan memahaminya maka akan mendapat pahala dari Allah SWT. oleh karena itu dianjurkan bagi setiap muslim laki-laki atau perempuan harus membacanya setiap hari ,tapi ternyata realita yang kita lihat zaman sekarang tidaklah demikian Koran ternyata lebih ampuh menyedot masyarakat kita untuk tiap hari duduk manis sambil menikmati kabar dunia melalui, sedang Al-Qur’an hanya dibuat sebgai asesoris dalam sebuah lemari kondisi demikian sangatlah memprihatinkan ternyata masih banyak saudara kita yang belum menyadari akan letak pentingnya Al-Qur’an sehingga kita tidak mampu membedakan antara Qur’an dan koran padahal telah kita ketahui bahwa koran hanyalah sebuah berita dunia tapi Qur’an tetap berita dunia akhirat.
Di dalam Al-Qur’an terdapat tiga fungsi Utama bagi manusia:
1. Sebagai Hudan yaitu sebagai petunjuk yang menuntut manusia menuju keselamatan lahir dan batin keselamatan dan kesejahteraan hidup didunia dan akhirat.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢)
Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS Al-baqarah:2).
2. Sebagai Bayyinah yang berarti berbagai penjelasan mengenai petunjuk baik penjelasan tentang berbagai perbuatan makanan, minuman dan segala tindakan fisik dan bisikan hati yang haram dan halal, nasehat, hukum dan berbagai cara jalan hidup menuju keselamatan.
وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (٥٢)
Artinya:. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Qs Al-a’raf:52)
3. Sebagai Al-furqon artinya yang membedakan dua hal.yaitu,yang membedakan dan menguraikan antara yang benar dan yang salah yang halal dan haram.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (١٧٢)
Artinya : Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).(Qs Al-baqarah:172).
Dari tiga fungsi utama tersebut maka jelas bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup petunjuk bagi manusia untuk menuju jalan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Sering kita jumpai orang keliru menilai Al-Qur’an ,Al-Quran dianggap kitab yang mengandung setiap teori ilmiah, oleh karena itu setiap ada penemuan baru dalam bidang ilmu, ia segera mengutip Ayat Al-Qur’an kemudian mentakwilkanya dengan cara menyesuaikan penafsiranya dengan penemuan baru dalam bidang ilmiah tersebut. Pokok kekeliruan terletak pada sifat teori ilmiah yang kebenarannya bersifat relatif ,padahal kebenaran Al-Qur’an bersifat mutlak. Alquran bukanlah kitab ilmiah melainkan kitab akidah dan hidayah yang mengajak dialog dengan hati nurani sehingga hiduplah faktor-faktor perkembangan serta motif-motif yang mendorong kepada kebajikan dan keutamaan hidup. Sedang letak mu’jizat Al-Qur’an dalam bidang ilmiah ada pada perintahnya yang tegas kepada umat manusia untuk berpikir membaca ayat-ayat Tuhan dialam semesta ini. Al-quran meletakkan yang benar dan dan shahaih tentang alam ini sebagai jalan teragung untuk meraih iman kepada Allah. Al-quran memerintahkan manusia untuk memikirkan kejadian alam semesta ini sampai pada kesimpulan bahwa segala yang diciptakan Allah tidaklah sia-sia.
Wahai saudaraku yang mudah-mudahan dimuliakan Allah
Apabila seseorang telah mengakui dua kalimat syahadat “Asyhadu Alla Ilaha Illallah Wa Asyhaduanna Muhammadar Rasulallah” Berartilah bahwa ia telah menerima waris dan diakuilah ia sebagai umat Muhammad. terpilihlah ia sebagai hamba Allah di dunia ini sebagai penerima waris Al-kitab.Tetapi setelah kitab diterima mereka sebagai penerima waris yang kekal “lalu dia diantara mereka ada yang dzalim dan diantara mereka ada yang cermat dan diantara mereka juga ada yang mendahului berbuat kebajikan dengan izin Allah. Maksud dari ungkapan diatas adalah, yang dzalim ialah yang mengambil Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkanya ,yang cermat ialah yang mengamalkanya dan yang mendahului ialah yang mengambil A-Quran untuk di amalkan dan mengajak pula kepada orang lain supaya mengamalkanya, itu dinamakan Al-Kamilul Mukammil (sempurna lagi menyempurnakan).
Disebutkan dalam sunnah nabi bahwa membaca Al-Qur’an itu sendiri merupakan ibadah yang paling baik dimana seorang muslim yang membacanya akan mendapat pahala yang besar dan menjadi dekat dengan Allah.Nabi Muhammad SAW menceritakan dalam banyak contoh yang lain tentang besarnya pahala yang diterima dari membaca Al-Qur’an , Imam Ahmad bin Hambal r.a. meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. Menemui Ubai bin Ka'ab, namun dia sedang shalat. Rasul berkata, `Hai Ubai.' Maka Ubai melirik, namun tidak menyahut. Nabi berkata, `Hai Ubai!' Lalu Ubai mempercepat shalatnya, kemudian beranjak menemui Rasulullah saw. Sambil berkata, `Asalamu'alaika, ya Rasulullah.' Rasul menjawab, `Wa'alaikassalam. Hai Ubai, mengapa kamu tidak menjawab ketika kupanggil?' Ubai menjawab, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang shalat.' Nabi bersabda, `Apakah kamu tidak menemukan dalam ayat yang diwahyukan Allah Ta'ala kepadaku yang menyatakan, `Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.' (al-Anfal:24) Ubai menjawab, `Ya Rasulullah, saya menemukan dan saya tidak akan mengulangi hal itu.' Rasul bersabda, `Sukakah kamu bila kuajari sebuah surat yang tidak diturunkan surat lain yang serupa dengannya di dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Furqan?' Ubai menjawab, `Saya suka, wahai Rasulullah.' Rasulullah saw. Bersabda, `Sesungguhnya aku tidak mau keluar dari pintu ini sebelum aku mengajarkannya.' Ubai berkata, `Kemudian Rasulullah memegang tanganku sambil bercerita kepadaku. Saya memperlambat jalan karena khawatir beliau akan sampai di pintu sebelum menuntaskan pembicaraannya. Ketika kami sudah mendekati pintu, aku berkata, `Ya Rasulullah, surat apakah yang janjikan itu?' Beliau bertanya, `Apa yang kamu baca dalam shalat?' Ubai berkata, `Maka aku membacakan Ummul-Qur'an kepada beliau.'
Beliau bersabda, `Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan surat yang setara dengan itu baik dalam Taurat, Injil, Zabur, maupun al-Furqan. Ia merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.'
"Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dan Nasa'I meriwayatkan dalam sunannya dengan sanad dari Ibnu, dia berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw. (sedang duduk) dan di sisinya ada Jibril. Tiba-tiba jibril mendengar suara dari atas. Maka dia mengarahkan pandangannya ke langit, lalu berkata, `Inilah pintu langit dibukakan, padahal sebelumnya tidak pernah.' Ibnu Abbas berkata, "Gembirakanlah (umatmu) dengan dua cahaya. Sungguh keduanya diberikan kepadamu dan tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu, yaitu Fatihatul-Kitab dan beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah. Tidakkah Anda membaca satu hurufpun darinya melainkan Anda akan diberi (pahalanya).'"
Wahai sudaraku yang mudah-mudahan dimuliakan Allah
Tiada kata yang pantas diucapkan untuk mengakhiri pidato yang sederhana ini kecuali sebuah harapan kepada kita semua untuk kembali pada semangat dan jiwa Al-Qur’an dan menjadikanya sebagai falsafah hidup serta berusaha setip saat untuk berpegang kepadanya terus menerus.
DAFTAR PUSTAKA
Pramono, Kebenaran al-Qur'an, Jakarta, Al-Mu’min, 2003
Depag, Pendidikan Islam, Jakarta, Lubuk Agung, 1995
S. Praja, Juhaya, Tafsir Hikmah, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2000
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jakarta, PT. Pustaka Panjimas.tt
DAFTAR PUSTAKA
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 April 2009
Tanggung Jawab Muslim Terhadap Kelestarian Agama
Tanggung Jawab Muslim Terhadap Kelestarian Agama
Saudar-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Allah berfirman dalam Q.S Ali- Imran:110 yang
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Seorang Islam adalah dia yang berbahagia melihat oarang lain berda dalam kebahagiaan, khususnya apabila ia bahagia disebabakan oleh dirinya. Ia bersedih melihat orng lain dalam kesulitan, khususnya apbila kesulitan itu disebabkan oleh dirinya. Islam menganjurkan kehidupan yang aktif dalam kehidupan sosial yang kreatif dan bukan mengasingkan diri dari masyarakat atau berhubungan dengan Allah semata. Islam mewajibkan untuk mencari bagian akhirat dan tidak menagbaikan bagian dunia. Maka bukanlah seorang muslim yang benar ynag hany mengasingkan diri dan tafakkur. Bukanlah muslim yang benar yang hany bersemedi di dalam masjid mencari ridli Allah dan rahmatNya. Sebaliknya bukanlah bukanlah seorang muslim yang benar orang yang hany memburu kekayaan tiada ingat akan kewajiban agamanya. Bukanlah seorang muslim yang benar yang hany mengumpulkan harta dunia dan menghitung-hitungnya dan melupakan Tuhanya. Dan bukanlah seorang muslim yang benar yang hidupnya hanya demi urusan dunia.
Generasi muslim yang saya hormati
Tugas kita sekarang adalah menunjukkan identitas Islam, berinteraksi dengan masyarakat dengan akhlak yang baik, walaupun seandainya kita hidup dimasayarakat kafir. Ibaratnya Islam adalah sebuah gedung maka akhlak adalah tiangnya yang wajib ditegakkan oleh setiap muslim. Maka barang siapa yang menegakkan berarti menegakkan agama. Dan barang siapa yang mengabaikanya berarti merobohkan Agama. Dalam hal ini Allah berfirman dalam (Q.S Al-Baqarah:112) yang Artinya: (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Dalam upaya menegakkan akhlak, seorang muslim harus mengisi jiwanya dengan ajaran Islam secara menyeluruh, sehingga ia betul-betul kenal akan Tuhanya dan betul-betul menyadari hakekat hidup. Maka segala perintah Tuhan akan dijalaniya denga suka hati tanpa dirasakany sebagai beban. Segala hal yang Tuhan larang akan dijalaninya dengan penuh keikhlasan.
Mengisi jiwa dengan ajaran Islam secara menyeluruh akan menjadikan seorang muslim berakhlakul karimah secarah tulis kepada Allah SWT. Dan dengan dengan ketulusanya itu serang muslim akan relahati pula berakhlakul karimah terhadap sesama manusia serta kapada sesama makhluk pada umumnya.dengan demikian maka menjadi tegaklah akhlak Islam pada diri muslim. Hal tersebut tentu akan mrndapat sambutan hangat dari sisi Allah SWT, bahwa seorang muslim telah mengamalkan ajaraNya dengan baik dan benar. Dia akn menilainya sebagai seorang muslim yang benar-benar menegakkan AgamNya. Ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain.
Pernyataan tersebut seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini. Istilah Emha ainun Njib, tanyakanlah pada diri kita, apakah kita ini manusia wajib, sunnah,mubah,makruh atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau keberadaanya sangat dirindukan, sangat bermanfaatperilakunya membuat hati orang disekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantarnya, dia serang pemalu, jarnag mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku keseharianya lebih banyak kebaikanya. Ucapany senantiasa terpelihara, ia hemat dengan kat-katanya. Sehingga ia lebiha banyak berbuat dari pada berbicara. Sedang orang yang sunnah keberadaanya bermanfaat, tetapi kalaupun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat kehilangan rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. orang yang mubah keberadaanya tidak berpengaruh.ada dan tidaknya tidak membawa manfaat, tidak juga membawa madhorot.
Adapun orang yang makruh, keberadaanya justru membawa madhorot, kalau dia tidak ada , tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang kesuatu tempat maka orang merasa bosan dan tidak senang. Apalagi dengan orang yang bertipe haram, keberadaanya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaanya malah disyukuri.
MasyaAllah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak. Tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat manfaat tidak dengan kehadiran kita?. Adanya kita di masayarakat sebagai manusia apakah wajib, sunnah, mubah makruh atau haram?
Kepada ibu-ibu, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing. Apakah anak kita sudah merasa bangga mempunyai ibu seperti kita? Punya manfaat tidak kita ini? Bagi Ayah cobalah mengukur diri, saya ini seporanh ayah atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada seorang muballigh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebrnaran atau hanya mencari penghargaan atau hanya mencari popularitas saja?
Jadi konsekuensi logis dari penilaian Allah SWT terhadap seorang muslim yang benar adalah menegakkan Agamanya. Dia akan memberi balasan yang amat menyenagkan, yakni berupa kebahagiaan hidup tidak hany di dunia fana ini, melainkan juga kebahagiaan yang berkelanggengan di akhirat kelak.
Hadirin Rohimakumullah
Umur itu bagaikan awan yang berlalu. Sekali melintas maka selamanya ia tak kan kembali. Karena itu selagi kita masih hidup dan mempunyai kesempatan, maka pergunakanlah umur yang demikian berharga itu untuk menunaikan tanggung jawab sebagai muslim, yakni dengan menumpuk amal sholeh sebanyak-banyaknya. Sungguh merugi bagi seseorang yang tidak menggunakan umurnya dengan baik. Kesempatan hanya datang satu kali dan setelah itu dihadapkan kepada Allah SWT untuk mempertanggung jawabkanya apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Firman Allah dalam Q.S Al-Asyr :1-3 yang Artinya:. Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Demikian pentingnya kegunaan waktu (umur) ini, samapai-sampai Allah bersumpah dengan menyebut Ashr. Dalam kaitanya dengan hal ini Imam Syafi’I pernah mengatakan: jika sekiranya Al-Quran itu terdiri hanya terdiri dari satu surat saja, maka surat itu adalah Al-Ashr karena itu sudah cukip mrnjadi pedoman umat manusia.
Hadirin yang saya hormati
Seandainya masing-masing kita memiliki keteguhan seperti baginda Rasul SAW memperjuagkan Agama walau badai rintanga terus menghantam. Dalam hal ini terdapat kisah menarikdari baginda Rasul SAW sebagai contoh untuk kita agar teguh mekestarikan agama Allah SWT. Suatu ketika, Abu Lahab menjerat leher leher Nabi SAW dengan selendang ketika Rasulullah SAW telah kritis, muncul Abu Bakar yang langsung mendorong Abu Lahab hingga ia terjengkang dan belitanya terlepas. Meski untuk itu Abu Bakar kemudian menjadi sasaran siksaan Abu Lahab dan teman-temanya hingga terluka parah karenanya.
Tidak hanya Abu Lahab, Uqhbah bin Abu Muith pun melakukan tindakan yang menggangu Nabi Muhammad SAW secara langsung. Uqbah meletakkan darah dan isi perut unta yang sangat menjijikkan ke pungginga Nabi Muhammad SAW ketika beliau telah melaksanakan sholat di depan ka’bah. Fatimah puteri bungsu Rasulullah SAWyang membersihkan kotoran itu dari punggung ayah handanya.
Kaum kafir Quraisy juga mendatangi Abu Thalib dan meminta agar Abu Thalib meminta keponakanya itu menghentikan dakwahnya. Abu Thalib memanag menyampaikanya, namuna Rasulullah SAW dengan tegas menyataka,” wahai paman, Demi Allah! Sekiranya mereka meletakkan matahari disebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku meninggalakan dakwahku hingga ia tersiar di muka bumi ini atau aku akan binasa karenanya, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalakan dakwahku ini.
Mengetahui kekukuhansikap keponakanya. Abu Thalib menyatakan perlindunganya pada ponakan tercintanay itu. Ia melindungi keponakanya itu dengan segala kekuatandan kemampuan yang ada pada dirinya.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Dari cuplikan kisah diatas semoga mampu membagkitkan semangat, motivasi dan inspirasi kita. Karena begitu besartantangan dan hambatan yang dihadapi. Namuan ternyata keimanan, ketakwaan serta keteguhan hati Rasulullah SAW untuk berjuang di jalan Sang khalik, jauh lebih kuat dibandingkan tantangan, godaan dan hambatan yang ada. Sungguh rieayat tersebut patiut diteladani oleh kita, sekalipun kita hidup di zaman yang berbeda.
Daftar pustaka
Abdul Halim,M Nipan. Menghias Diri Dengan Akhlak Terpuji. Yogyakarta. Mitra Pustaka. 2000
Ibnu Atho’illah Assukandari. Pelita Hati. Surabaya. Bintang Usaha Jaya.tt
Komando,Gemal. Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul. Yogyakarta. Sketsa. 2006
Saudar-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Allah berfirman dalam Q.S Ali- Imran:110 yang
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Seorang Islam adalah dia yang berbahagia melihat oarang lain berda dalam kebahagiaan, khususnya apabila ia bahagia disebabakan oleh dirinya. Ia bersedih melihat orng lain dalam kesulitan, khususnya apbila kesulitan itu disebabkan oleh dirinya. Islam menganjurkan kehidupan yang aktif dalam kehidupan sosial yang kreatif dan bukan mengasingkan diri dari masyarakat atau berhubungan dengan Allah semata. Islam mewajibkan untuk mencari bagian akhirat dan tidak menagbaikan bagian dunia. Maka bukanlah seorang muslim yang benar ynag hany mengasingkan diri dan tafakkur. Bukanlah muslim yang benar yang hany bersemedi di dalam masjid mencari ridli Allah dan rahmatNya. Sebaliknya bukanlah bukanlah seorang muslim yang benar orang yang hany memburu kekayaan tiada ingat akan kewajiban agamanya. Bukanlah seorang muslim yang benar yang hany mengumpulkan harta dunia dan menghitung-hitungnya dan melupakan Tuhanya. Dan bukanlah seorang muslim yang benar yang hidupnya hanya demi urusan dunia.
Generasi muslim yang saya hormati
Tugas kita sekarang adalah menunjukkan identitas Islam, berinteraksi dengan masyarakat dengan akhlak yang baik, walaupun seandainya kita hidup dimasayarakat kafir. Ibaratnya Islam adalah sebuah gedung maka akhlak adalah tiangnya yang wajib ditegakkan oleh setiap muslim. Maka barang siapa yang menegakkan berarti menegakkan agama. Dan barang siapa yang mengabaikanya berarti merobohkan Agama. Dalam hal ini Allah berfirman dalam (Q.S Al-Baqarah:112) yang Artinya: (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Dalam upaya menegakkan akhlak, seorang muslim harus mengisi jiwanya dengan ajaran Islam secara menyeluruh, sehingga ia betul-betul kenal akan Tuhanya dan betul-betul menyadari hakekat hidup. Maka segala perintah Tuhan akan dijalaniya denga suka hati tanpa dirasakany sebagai beban. Segala hal yang Tuhan larang akan dijalaninya dengan penuh keikhlasan.
Mengisi jiwa dengan ajaran Islam secara menyeluruh akan menjadikan seorang muslim berakhlakul karimah secarah tulis kepada Allah SWT. Dan dengan dengan ketulusanya itu serang muslim akan relahati pula berakhlakul karimah terhadap sesama manusia serta kapada sesama makhluk pada umumnya.dengan demikian maka menjadi tegaklah akhlak Islam pada diri muslim. Hal tersebut tentu akan mrndapat sambutan hangat dari sisi Allah SWT, bahwa seorang muslim telah mengamalkan ajaraNya dengan baik dan benar. Dia akn menilainya sebagai seorang muslim yang benar-benar menegakkan AgamNya. Ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain.
Pernyataan tersebut seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini. Istilah Emha ainun Njib, tanyakanlah pada diri kita, apakah kita ini manusia wajib, sunnah,mubah,makruh atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau keberadaanya sangat dirindukan, sangat bermanfaatperilakunya membuat hati orang disekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantarnya, dia serang pemalu, jarnag mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku keseharianya lebih banyak kebaikanya. Ucapany senantiasa terpelihara, ia hemat dengan kat-katanya. Sehingga ia lebiha banyak berbuat dari pada berbicara. Sedang orang yang sunnah keberadaanya bermanfaat, tetapi kalaupun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat kehilangan rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. orang yang mubah keberadaanya tidak berpengaruh.ada dan tidaknya tidak membawa manfaat, tidak juga membawa madhorot.
Adapun orang yang makruh, keberadaanya justru membawa madhorot, kalau dia tidak ada , tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang kesuatu tempat maka orang merasa bosan dan tidak senang. Apalagi dengan orang yang bertipe haram, keberadaanya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaanya malah disyukuri.
MasyaAllah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak. Tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat manfaat tidak dengan kehadiran kita?. Adanya kita di masayarakat sebagai manusia apakah wajib, sunnah, mubah makruh atau haram?
Kepada ibu-ibu, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing. Apakah anak kita sudah merasa bangga mempunyai ibu seperti kita? Punya manfaat tidak kita ini? Bagi Ayah cobalah mengukur diri, saya ini seporanh ayah atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada seorang muballigh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebrnaran atau hanya mencari penghargaan atau hanya mencari popularitas saja?
Jadi konsekuensi logis dari penilaian Allah SWT terhadap seorang muslim yang benar adalah menegakkan Agamanya. Dia akan memberi balasan yang amat menyenagkan, yakni berupa kebahagiaan hidup tidak hany di dunia fana ini, melainkan juga kebahagiaan yang berkelanggengan di akhirat kelak.
Hadirin Rohimakumullah
Umur itu bagaikan awan yang berlalu. Sekali melintas maka selamanya ia tak kan kembali. Karena itu selagi kita masih hidup dan mempunyai kesempatan, maka pergunakanlah umur yang demikian berharga itu untuk menunaikan tanggung jawab sebagai muslim, yakni dengan menumpuk amal sholeh sebanyak-banyaknya. Sungguh merugi bagi seseorang yang tidak menggunakan umurnya dengan baik. Kesempatan hanya datang satu kali dan setelah itu dihadapkan kepada Allah SWT untuk mempertanggung jawabkanya apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Firman Allah dalam Q.S Al-Asyr :1-3 yang Artinya:. Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Demikian pentingnya kegunaan waktu (umur) ini, samapai-sampai Allah bersumpah dengan menyebut Ashr. Dalam kaitanya dengan hal ini Imam Syafi’I pernah mengatakan: jika sekiranya Al-Quran itu terdiri hanya terdiri dari satu surat saja, maka surat itu adalah Al-Ashr karena itu sudah cukip mrnjadi pedoman umat manusia.
Hadirin yang saya hormati
Seandainya masing-masing kita memiliki keteguhan seperti baginda Rasul SAW memperjuagkan Agama walau badai rintanga terus menghantam. Dalam hal ini terdapat kisah menarikdari baginda Rasul SAW sebagai contoh untuk kita agar teguh mekestarikan agama Allah SWT. Suatu ketika, Abu Lahab menjerat leher leher Nabi SAW dengan selendang ketika Rasulullah SAW telah kritis, muncul Abu Bakar yang langsung mendorong Abu Lahab hingga ia terjengkang dan belitanya terlepas. Meski untuk itu Abu Bakar kemudian menjadi sasaran siksaan Abu Lahab dan teman-temanya hingga terluka parah karenanya.
Tidak hanya Abu Lahab, Uqhbah bin Abu Muith pun melakukan tindakan yang menggangu Nabi Muhammad SAW secara langsung. Uqbah meletakkan darah dan isi perut unta yang sangat menjijikkan ke pungginga Nabi Muhammad SAW ketika beliau telah melaksanakan sholat di depan ka’bah. Fatimah puteri bungsu Rasulullah SAWyang membersihkan kotoran itu dari punggung ayah handanya.
Kaum kafir Quraisy juga mendatangi Abu Thalib dan meminta agar Abu Thalib meminta keponakanya itu menghentikan dakwahnya. Abu Thalib memanag menyampaikanya, namuna Rasulullah SAW dengan tegas menyataka,” wahai paman, Demi Allah! Sekiranya mereka meletakkan matahari disebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku meninggalakan dakwahku hingga ia tersiar di muka bumi ini atau aku akan binasa karenanya, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalakan dakwahku ini.
Mengetahui kekukuhansikap keponakanya. Abu Thalib menyatakan perlindunganya pada ponakan tercintanay itu. Ia melindungi keponakanya itu dengan segala kekuatandan kemampuan yang ada pada dirinya.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Dari cuplikan kisah diatas semoga mampu membagkitkan semangat, motivasi dan inspirasi kita. Karena begitu besartantangan dan hambatan yang dihadapi. Namuan ternyata keimanan, ketakwaan serta keteguhan hati Rasulullah SAW untuk berjuang di jalan Sang khalik, jauh lebih kuat dibandingkan tantangan, godaan dan hambatan yang ada. Sungguh rieayat tersebut patiut diteladani oleh kita, sekalipun kita hidup di zaman yang berbeda.
Daftar pustaka
Abdul Halim,M Nipan. Menghias Diri Dengan Akhlak Terpuji. Yogyakarta. Mitra Pustaka. 2000
Ibnu Atho’illah Assukandari. Pelita Hati. Surabaya. Bintang Usaha Jaya.tt
Komando,Gemal. Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul. Yogyakarta. Sketsa. 2006
Label:
Al-Quran,
hukum,
manajemen Qolbu,
puasa,
tanggung jawab muslim,
tauhid
Indahnya Perbedaan Pendapat
INDAHNYA PERBEDAAN PENDAPAT
Hadirin Rohimakumullah
Perbedaan dalam alam semesta adalah sunnatullah yang membuat kehidupan menjadi harmonis. Perbedaan warna membuat kehidupan menjadi indah, kita tidak akan dapat mengetahui putih jika tidak pernah ada hitam, merah, hijau dan warna lainnya. Kita tidak akan dapat bekerja dengan baik jika jari-jari tangan kita ukuran dan bentuknya sama, seperti telunjuk semua misalnya, atau kita akan kesulitan mengunyah makanan jika bentuk gigi kita semuanya sama, taring semua misalnya, dan lain-lain. Demikanlah harmoni kehidupan, alam semesta menjadi indah ketika ada perbedaan wujud dan fungsinya. Perbedaan pada wasa’ilulhayat (sarana hidup).
Permasalahan muncul ketika perbedaan terjadi pada minhajul hayah (jalan hidup). Perbedaan itu menjadi sangat membahayakan ketika terjadi pada dzatuddin (esensi agama). Firman Allah : “ Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” QS.Al-mu’min:13,
Artinya: Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).
Atau perbedaan yang terjadi pada ushul (dasar-dasar) yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an, AS Sunnah, maupun Ijma’. Sebab prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an, As Sunnah maupun Ijma’ adalah esensi dasar dari ajaran agama yang mempersatukan ajaran Muhammad SAW dengan ajaran para Nabi sebelumnya disebutkan dalam Al-Quran(QS. Al-Ankabut: 69)
• •
Artinya:. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. kemudian perbedaan tanawwu’ (penganeka ragaman) dalam pelaksanaan syari’ah, antara wajib atau sunnah. Wajib ain atau kifayah, dan seterusnya.
Hadirin rohimakumullah
Perbedaan itu dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok berikut ini:
a Perbedaan pada Dzatuddin (esensi) dan Ushul (dasar-dasar) prinsipil. Perbedaan inilah diisyaratkan Allah dalam( Q.S Huud:118-119) :
, •• • • • • ••
Artinya: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) Telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.
Inilah perbedaan yang menghasilkan perbedaan agama seperti , Yahudi, Nasrani, Majusi, dst. Dan untuk itulah Allah utus para Nabi dan Rasul untuk menilai dan meluruskan mereka. Firman Allah dalam Q.S Al-Baqaroh:213
•• • • ••
Artinya: Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
b Perbedaan umat Islam pada Qaidah Kulliyah (kaidah umum). Perbedaan ini muncul setelah terjadi kesepakatan pada dasar prinsipil agama Islam. Perbedaan pada masalah inilah yang dapat kita fahami dari hadits Nabi yang memprediksikan terjadinya perpecahan hingga tujuh puluh tiga golongan. Perbedaan ini lebih terjadi pada minhaj (konsep) akibat infiltrasi ajaran Agama dengan konsep lainnya. Seperti akibat infiltrasi konsep Yahudi, faham materialis, Budhis, dsb. Rasulullah memberitahukan bahwa di antara umat ini ada yang mengikuti umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal hingga tidak ada lagi eksistensi agama ini kecuali tinggal namanya. Perbedaan ini berada dalam rentangan dhalal (sesat) dan hidayah (benar), sunnah dan bid’ah. Seperti perbedaan Ahlussunnah dan Mu’tazilah, Qadariyah, Rafidhah, dsb.
c Perbedaan pada Furu’iyyah (cabang). Perbedaan ini muncul pada tataran aplikatif, setelah terjadi kesepakatan pada masalah-masalah dasar prinsipil dan kaidah kulliyah. Perbedaan aplikasi ini sangat mungkin terjadi karena memang Allah telah jadikan furu’ (cabang) syari’ah agama terbuka untuk dianalisa dan dikaji aplikasinya. .
Karena perbedaan pada tataran apliskasi ini suatu keniscayaan , Allah memberikan referensi dasar untuk menjadi titik temu dari semua perbedaan pemahamam. Dalam hal ini Allah berfirman (Q.S: Annisa’:59)
Artinya:. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Maka perbedaan apapun yang muncul dalam tataran aplikasi/furu’iyyah harus dikembalikan kepada kitab Allah, dan rasul-Nya semasa hidup atau kepada Sunnahnya setelah rasul wafat.
Porsi perbedaan ini dilakukan oleh para Fuqaha (ahli fiqh) dalam persoalan furu’iyyah setelah terjadi angdengan Islam, menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan yang tercela (sebagai ahlunnar dari 73 golongan) adalah perbedaan fuqaha dalam masalah furu’iyyah fiqh. Untuk menghadapi perbedaan halal-haram dalam masalah fiqh saja terdapat dua alur:
Pendapat yang membenarkan semua pendapat mujtahid dalam masalah fiqh, atau dengan kata lain ijtihad fiqhiyyah/furu’iyyah adalah “semua benar” pandangan yang menganggap bahwa ada satu kebenaran dari perbedaan yang bermacam-macam itu, selainnya salah, tetapi berpahala juga, artinya tidak tersesat.
Sampai di sini dapat kita fahami pandangan Imam Syahid Hasan Al Banna yang mengatakan bahwa khilaf (perbedaan) fiqhiy dalam masalah-masalah furu’iyyah tidak boleh menjadi sebab perpecahan, permusuhan, dan kebencian. Setiap mujtahid telah memperoleh balasannya.
Hadirin rohimakumullah
Yang menjadi sebab kesuksesan umat Islam adalah karena mereka mengarungi lautan yang Agama yang luas sampai keujung pantai, dan mendalaminya sampai ke dasarnya, yaitu Al-Quran dan as-Sunnah. mereka meminumnya sesuai dengan kadar kemampuanya dan tidak menghadapi yang lain dengan rasa benci dan dengki yakni dapat menerima perbedaan. Diantara mereka ada yang memahami ayat Al-Quran atau as-Sunnah dengan pemahaman yang berbeda dengan pemahaman yang dilakukan yang lain, kemudian mereka diskusikan dengan cara yang sebaik-baiknya. Apabila hasilnya dapat disepakati bersama maka mereka sama-sama memuji Allah SWT. Dan apabila tidak dicapai kata sepakat maka mereka saling memaafkan dan kembali sebagaimana dua orang sahabat yang saling berkasih sayang. Maka itulah keinadahan yang ditimbulkan karena perbedaan pendapat.
Para sahabat “Radhiallaahu 'Anhum pernah berbeda pendapat tentang menyikapi perintah Rasulullah SAW agar shalat di tempat Bani Quraidhah.
Ibnu Abbas Radhiallaahu 'Anhu berbeda pendapat dengan Ibunda Aisyah “Radhiallaahu 'Anha tentang Rasulullah SAW ketika Isra' dan Mi'raj, apakah Beliau melihat Allah dengan mata kepala atau mata hati atau melihat cahaya.
Ibnu Mas'ud Radhiallaahu 'Anhu berbeda pendapat dengan Utsman bin Affan Radhiallahu 'Anhu tentang shalat di Mina pada musim-musim haji, di-qashar atau disempurnakan.
Ibnu Mas'ud “Radhiallahu 'Anhu berbeda pendapat dengan Ibnu Abbas “Radhiallahu 'Anhuma tentang penafsiran salah satu tanda besar kiamat, yaitu Ad-Dukhan (asap atau kabut).
Dan masih banyak lagi yang lainya...Semua perbedaan itu tidak menyebabkan mereka berpecah belah atau saling menghujat dan menjatuhkan, bahkan mereka tetap bersaudara, rukun dan saling menghormati.
Bahkan, malaikat-pun juga berbeda pendapat, yaitu ketika seorang yang telah membunuh seratus orang, kemudian ia bertaubat dan pergi berhijrah lalu meninggal dunia dalam perjalanan. Terjadi perbedaan pendapat antara malaikat rahmat dengan malaikat adzab dalam menyikapinya. Malaikat rahmat berpendapat bahwa orang ini adalah ahli surga karena telah bertaubat, sedang malaikat adzab berpendapat bahwa orang ini adalah ahli neraka karena telah membunuh seratus orang dan belum berbuat kebaikan. Akhirnya Allah mengirimkan malaikat ketiga yang memutuskan perkara bahwa orang tersebut adalah ahli surga. Perbedaan pendapat dan sikap diantara kedua malaikat tersebut tidak sampai menyebabkan mereka berbecah belah, saling menghujat, bertikai dan saling menjatuhkan, justeru mereka tetap saling menghormati dan menghargai. Kisah ini terdapat dalam riwayat-riwayat sahih.
Hadirin rohimakumullah
Justru perbedaan-perbedaan dalam Islam menunjukkan khazanah keintelektualan Islam yang sangat luas yang memadukan berbagai pemikiran-pemikiran tokoh Islam dalam menyikapi perubahan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Mujahid, Abu. Perbedaan Pendapat Dalam Islam,Al-Manaar, 2007.
Isa, A Jalil. Masalah-Masalah keagamaan,Bandung,PT Al-Maarif,1982.
Hadromi. Abdullah Saleh, Menyikapi Perbedaan Pendapat, Malang, Hatibening, 2007.
Hadirin Rohimakumullah
Perbedaan dalam alam semesta adalah sunnatullah yang membuat kehidupan menjadi harmonis. Perbedaan warna membuat kehidupan menjadi indah, kita tidak akan dapat mengetahui putih jika tidak pernah ada hitam, merah, hijau dan warna lainnya. Kita tidak akan dapat bekerja dengan baik jika jari-jari tangan kita ukuran dan bentuknya sama, seperti telunjuk semua misalnya, atau kita akan kesulitan mengunyah makanan jika bentuk gigi kita semuanya sama, taring semua misalnya, dan lain-lain. Demikanlah harmoni kehidupan, alam semesta menjadi indah ketika ada perbedaan wujud dan fungsinya. Perbedaan pada wasa’ilulhayat (sarana hidup).
Permasalahan muncul ketika perbedaan terjadi pada minhajul hayah (jalan hidup). Perbedaan itu menjadi sangat membahayakan ketika terjadi pada dzatuddin (esensi agama). Firman Allah : “ Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” QS.Al-mu’min:13,
Artinya: Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).
Atau perbedaan yang terjadi pada ushul (dasar-dasar) yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an, AS Sunnah, maupun Ijma’. Sebab prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an, As Sunnah maupun Ijma’ adalah esensi dasar dari ajaran agama yang mempersatukan ajaran Muhammad SAW dengan ajaran para Nabi sebelumnya disebutkan dalam Al-Quran(QS. Al-Ankabut: 69)
• •
Artinya:. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. kemudian perbedaan tanawwu’ (penganeka ragaman) dalam pelaksanaan syari’ah, antara wajib atau sunnah. Wajib ain atau kifayah, dan seterusnya.
Hadirin rohimakumullah
Perbedaan itu dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok berikut ini:
a Perbedaan pada Dzatuddin (esensi) dan Ushul (dasar-dasar) prinsipil. Perbedaan inilah diisyaratkan Allah dalam( Q.S Huud:118-119) :
, •• • • • • ••
Artinya: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) Telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.
Inilah perbedaan yang menghasilkan perbedaan agama seperti , Yahudi, Nasrani, Majusi, dst. Dan untuk itulah Allah utus para Nabi dan Rasul untuk menilai dan meluruskan mereka. Firman Allah dalam Q.S Al-Baqaroh:213
•• • • ••
Artinya: Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
b Perbedaan umat Islam pada Qaidah Kulliyah (kaidah umum). Perbedaan ini muncul setelah terjadi kesepakatan pada dasar prinsipil agama Islam. Perbedaan pada masalah inilah yang dapat kita fahami dari hadits Nabi yang memprediksikan terjadinya perpecahan hingga tujuh puluh tiga golongan. Perbedaan ini lebih terjadi pada minhaj (konsep) akibat infiltrasi ajaran Agama dengan konsep lainnya. Seperti akibat infiltrasi konsep Yahudi, faham materialis, Budhis, dsb. Rasulullah memberitahukan bahwa di antara umat ini ada yang mengikuti umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal hingga tidak ada lagi eksistensi agama ini kecuali tinggal namanya. Perbedaan ini berada dalam rentangan dhalal (sesat) dan hidayah (benar), sunnah dan bid’ah. Seperti perbedaan Ahlussunnah dan Mu’tazilah, Qadariyah, Rafidhah, dsb.
c Perbedaan pada Furu’iyyah (cabang). Perbedaan ini muncul pada tataran aplikatif, setelah terjadi kesepakatan pada masalah-masalah dasar prinsipil dan kaidah kulliyah. Perbedaan aplikasi ini sangat mungkin terjadi karena memang Allah telah jadikan furu’ (cabang) syari’ah agama terbuka untuk dianalisa dan dikaji aplikasinya. .
Karena perbedaan pada tataran apliskasi ini suatu keniscayaan , Allah memberikan referensi dasar untuk menjadi titik temu dari semua perbedaan pemahamam. Dalam hal ini Allah berfirman (Q.S: Annisa’:59)
Artinya:. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Maka perbedaan apapun yang muncul dalam tataran aplikasi/furu’iyyah harus dikembalikan kepada kitab Allah, dan rasul-Nya semasa hidup atau kepada Sunnahnya setelah rasul wafat.
Porsi perbedaan ini dilakukan oleh para Fuqaha (ahli fiqh) dalam persoalan furu’iyyah setelah terjadi angdengan Islam, menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan yang tercela (sebagai ahlunnar dari 73 golongan) adalah perbedaan fuqaha dalam masalah furu’iyyah fiqh. Untuk menghadapi perbedaan halal-haram dalam masalah fiqh saja terdapat dua alur:
Pendapat yang membenarkan semua pendapat mujtahid dalam masalah fiqh, atau dengan kata lain ijtihad fiqhiyyah/furu’iyyah adalah “semua benar” pandangan yang menganggap bahwa ada satu kebenaran dari perbedaan yang bermacam-macam itu, selainnya salah, tetapi berpahala juga, artinya tidak tersesat.
Sampai di sini dapat kita fahami pandangan Imam Syahid Hasan Al Banna yang mengatakan bahwa khilaf (perbedaan) fiqhiy dalam masalah-masalah furu’iyyah tidak boleh menjadi sebab perpecahan, permusuhan, dan kebencian. Setiap mujtahid telah memperoleh balasannya.
Hadirin rohimakumullah
Yang menjadi sebab kesuksesan umat Islam adalah karena mereka mengarungi lautan yang Agama yang luas sampai keujung pantai, dan mendalaminya sampai ke dasarnya, yaitu Al-Quran dan as-Sunnah. mereka meminumnya sesuai dengan kadar kemampuanya dan tidak menghadapi yang lain dengan rasa benci dan dengki yakni dapat menerima perbedaan. Diantara mereka ada yang memahami ayat Al-Quran atau as-Sunnah dengan pemahaman yang berbeda dengan pemahaman yang dilakukan yang lain, kemudian mereka diskusikan dengan cara yang sebaik-baiknya. Apabila hasilnya dapat disepakati bersama maka mereka sama-sama memuji Allah SWT. Dan apabila tidak dicapai kata sepakat maka mereka saling memaafkan dan kembali sebagaimana dua orang sahabat yang saling berkasih sayang. Maka itulah keinadahan yang ditimbulkan karena perbedaan pendapat.
Para sahabat “Radhiallaahu 'Anhum pernah berbeda pendapat tentang menyikapi perintah Rasulullah SAW agar shalat di tempat Bani Quraidhah.
Ibnu Abbas Radhiallaahu 'Anhu berbeda pendapat dengan Ibunda Aisyah “Radhiallaahu 'Anha tentang Rasulullah SAW ketika Isra' dan Mi'raj, apakah Beliau melihat Allah dengan mata kepala atau mata hati atau melihat cahaya.
Ibnu Mas'ud Radhiallaahu 'Anhu berbeda pendapat dengan Utsman bin Affan Radhiallahu 'Anhu tentang shalat di Mina pada musim-musim haji, di-qashar atau disempurnakan.
Ibnu Mas'ud “Radhiallahu 'Anhu berbeda pendapat dengan Ibnu Abbas “Radhiallahu 'Anhuma tentang penafsiran salah satu tanda besar kiamat, yaitu Ad-Dukhan (asap atau kabut).
Dan masih banyak lagi yang lainya...Semua perbedaan itu tidak menyebabkan mereka berpecah belah atau saling menghujat dan menjatuhkan, bahkan mereka tetap bersaudara, rukun dan saling menghormati.
Bahkan, malaikat-pun juga berbeda pendapat, yaitu ketika seorang yang telah membunuh seratus orang, kemudian ia bertaubat dan pergi berhijrah lalu meninggal dunia dalam perjalanan. Terjadi perbedaan pendapat antara malaikat rahmat dengan malaikat adzab dalam menyikapinya. Malaikat rahmat berpendapat bahwa orang ini adalah ahli surga karena telah bertaubat, sedang malaikat adzab berpendapat bahwa orang ini adalah ahli neraka karena telah membunuh seratus orang dan belum berbuat kebaikan. Akhirnya Allah mengirimkan malaikat ketiga yang memutuskan perkara bahwa orang tersebut adalah ahli surga. Perbedaan pendapat dan sikap diantara kedua malaikat tersebut tidak sampai menyebabkan mereka berbecah belah, saling menghujat, bertikai dan saling menjatuhkan, justeru mereka tetap saling menghormati dan menghargai. Kisah ini terdapat dalam riwayat-riwayat sahih.
Hadirin rohimakumullah
Justru perbedaan-perbedaan dalam Islam menunjukkan khazanah keintelektualan Islam yang sangat luas yang memadukan berbagai pemikiran-pemikiran tokoh Islam dalam menyikapi perubahan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Mujahid, Abu. Perbedaan Pendapat Dalam Islam,Al-Manaar, 2007.
Isa, A Jalil. Masalah-Masalah keagamaan,Bandung,PT Al-Maarif,1982.
Hadromi. Abdullah Saleh, Menyikapi Perbedaan Pendapat, Malang, Hatibening, 2007.
Label:
Al-Quran,
hukum,
manajemen Qolbu,
puasa,
tanggung jawab muslim,
tauhid
Mengasuh Anak Menurut Islam
MENGASUH ANAK MENURUT ISLAM
Hadirin Rohimakumullah
Allah SWT berfirman dalam Q.S Luqman:13-19
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤)وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٥)يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (١٦)يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (١٧)وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (١٨)وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (١٩)
Artinya Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS.: Luqman : 13-19)
Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul "agenda persoalan" baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya. Dalam kehidupan manusia, baik ank-anak berlanjut samapi masa dewasa tentu banyak terjadi ha-hal yang tidak diinginkan,seperti kemungkaran keteledoran ataupun kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Dalam hal inilah orang tua terlibat langsunag dengan mereka, maka mereka berkewajiban mengubah perilaku sang anak.
Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan . Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya Allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orengtuanya. Upaya dalam mendidik anak dalam naungan Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian.
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.
Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad). Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah.
Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan
goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal islam secara utuh.
Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan, sebagaimana sabda Rasul SAW:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi." (Hr.Bukhari).
Dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua Muslim dalam mendidik anak:
a. Orang tua perlu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
b. Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
c. Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
d. Sebelum mentransfer ilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat.
e. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal Al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain. Memang usaha mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua.
f. Saudar-saudaraku sekalian, inilah sekarang paling menjadi masalah bagi peradaban kita. Kita mempunyai anak, dia memiliki gelar yang bagus, sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tapi akhlaknya jelek, maka tidak ada artinya. Allah berfirman dalam Q.S Al-kahf:46
Sesuai dengan ayat ini, kita sadar bahwa masyarakat Islam, setiap anggota harus melaksanakan kewajibanya pada yang lain. Adapun tugas orang tua adalah untuk mendidik, menanamkan rasa disiplin dan tingkah laku yang lebih baik ditengah-tengah anak-anak,dan merupakan tugas anak-anak untuk mentaati, menunjukkan rasa hormat, dan mengikuti nasehat mereka selama nasehat tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah Nabi. sungguh Islam dengan kuat merasakan adanya ketergantungan berat seorang anak terhadap para orang tua dan peranan mereka menentukan dalam membentuk kepribadian anak.
Hadirin rohimakumullah
Dalam satu riwayat diceritakan:,
Suatu hari Dengan tergopoh-gopoh, isteri Al-Qamah menghadap Rasulullah SAW mengabarkan suaminya sakit keras. Beberapa hari mengalami naza' tapi tak juga sembuh. "Aku sangat kasihan kepadanya ya Rasulullah," ratap perempuan itu. Mendengar pengaduan wanita itu Nabi SAW merasa iba di hati. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk keadaan Al-Qamah. Keadaan Al-Qamah memang sudah dalam keadaan koma. Sahabat Bilal lalu menuntunnya membacakan tahlil di telinganya, anehnya seakan-akan mulut Al-Qamah rapat terkunci. Berulang kali dicoba, mulut itu tidak mau membuka sedikitpun. Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Al-Qamah. "Sudah kau coba menalqin di telinganya?" tanya Nabi."Sudah Rasulullah, tetapi mulut itu tetap terbungkam rapat," jawabnya." Biarlah aku sendiri datang ke sana", kata Nabi. Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :"Masihkah kedua orang tuanya?" tanya Nabi.
"Masih ya Rasulullah," tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta," jawab isterinya."
Di mana dia sekarang?"
"Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini."
Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah. "Biarlah dia rasakan sendiri", ujar ibu Al-Qamah. "Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?" tanya Nabi.
"Dia berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.”Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosanaknya," bujuk Nabi.
"Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri," kata ibu itu.
"Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir," kata Rasulullah."Biarlah dia ke neraka dengan dosanya," jawab ibu itu. Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : "Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," perintah Nabi.”Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah," tanya Bilal keheranan."Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit", jawab Rasulullah. Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, "Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku," ratapnya. Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.
Dari cerita diatas menunjukkan bahwa untuk menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas orang tua. Janaganlah sepenuhnya menyalahkan si anak, tapi sudahkah kita intropeksi diri,melatih segala tindakanya sebagaimana pribadi Rasul, menanamkan nilai-nilai Islam kepadanya serta menciptakan keluarga yang Islami jadi Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak,agar anak mengerti atas hak dan kewajibanya.
DAFTAR PUSTAKA
Jumantoro,Totok. Psikologi Dakwah, Wonosobo:Amzah,2001
Abdullah Gymnastiar, Manajemen Qolbu, Bandung,: Bundel UGLY,2002
Azkiya,Ummu.Mendidik Anak Taat Syariah, Jakarta: HTI Press, 2008.
Hadirin Rohimakumullah
Allah SWT berfirman dalam Q.S Luqman:13-19
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤)وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٥)يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (١٦)يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (١٧)وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (١٨)وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (١٩)
Artinya Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS.: Luqman : 13-19)
Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul "agenda persoalan" baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya. Dalam kehidupan manusia, baik ank-anak berlanjut samapi masa dewasa tentu banyak terjadi ha-hal yang tidak diinginkan,seperti kemungkaran keteledoran ataupun kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Dalam hal inilah orang tua terlibat langsunag dengan mereka, maka mereka berkewajiban mengubah perilaku sang anak.
Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan . Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya Allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orengtuanya. Upaya dalam mendidik anak dalam naungan Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian.
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.
Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad). Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah.
Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan
goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal islam secara utuh.
Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan, sebagaimana sabda Rasul SAW:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi." (Hr.Bukhari).
Dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua Muslim dalam mendidik anak:
a. Orang tua perlu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
b. Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
c. Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
d. Sebelum mentransfer ilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat.
e. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal Al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain. Memang usaha mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua.
f. Saudar-saudaraku sekalian, inilah sekarang paling menjadi masalah bagi peradaban kita. Kita mempunyai anak, dia memiliki gelar yang bagus, sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tapi akhlaknya jelek, maka tidak ada artinya. Allah berfirman dalam Q.S Al-kahf:46
Sesuai dengan ayat ini, kita sadar bahwa masyarakat Islam, setiap anggota harus melaksanakan kewajibanya pada yang lain. Adapun tugas orang tua adalah untuk mendidik, menanamkan rasa disiplin dan tingkah laku yang lebih baik ditengah-tengah anak-anak,dan merupakan tugas anak-anak untuk mentaati, menunjukkan rasa hormat, dan mengikuti nasehat mereka selama nasehat tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah Nabi. sungguh Islam dengan kuat merasakan adanya ketergantungan berat seorang anak terhadap para orang tua dan peranan mereka menentukan dalam membentuk kepribadian anak.
Hadirin rohimakumullah
Dalam satu riwayat diceritakan:,
Suatu hari Dengan tergopoh-gopoh, isteri Al-Qamah menghadap Rasulullah SAW mengabarkan suaminya sakit keras. Beberapa hari mengalami naza' tapi tak juga sembuh. "Aku sangat kasihan kepadanya ya Rasulullah," ratap perempuan itu. Mendengar pengaduan wanita itu Nabi SAW merasa iba di hati. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk keadaan Al-Qamah. Keadaan Al-Qamah memang sudah dalam keadaan koma. Sahabat Bilal lalu menuntunnya membacakan tahlil di telinganya, anehnya seakan-akan mulut Al-Qamah rapat terkunci. Berulang kali dicoba, mulut itu tidak mau membuka sedikitpun. Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Al-Qamah. "Sudah kau coba menalqin di telinganya?" tanya Nabi."Sudah Rasulullah, tetapi mulut itu tetap terbungkam rapat," jawabnya." Biarlah aku sendiri datang ke sana", kata Nabi. Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :"Masihkah kedua orang tuanya?" tanya Nabi.
"Masih ya Rasulullah," tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta," jawab isterinya."
Di mana dia sekarang?"
"Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini."
Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah. "Biarlah dia rasakan sendiri", ujar ibu Al-Qamah. "Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?" tanya Nabi.
"Dia berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.”Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosanaknya," bujuk Nabi.
"Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri," kata ibu itu.
"Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir," kata Rasulullah."Biarlah dia ke neraka dengan dosanya," jawab ibu itu. Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : "Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," perintah Nabi.”Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah," tanya Bilal keheranan."Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit", jawab Rasulullah. Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, "Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku," ratapnya. Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.
Dari cerita diatas menunjukkan bahwa untuk menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas orang tua. Janaganlah sepenuhnya menyalahkan si anak, tapi sudahkah kita intropeksi diri,melatih segala tindakanya sebagaimana pribadi Rasul, menanamkan nilai-nilai Islam kepadanya serta menciptakan keluarga yang Islami jadi Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak,agar anak mengerti atas hak dan kewajibanya.
DAFTAR PUSTAKA
Jumantoro,Totok. Psikologi Dakwah, Wonosobo:Amzah,2001
Abdullah Gymnastiar, Manajemen Qolbu, Bandung,: Bundel UGLY,2002
Azkiya,Ummu.Mendidik Anak Taat Syariah, Jakarta: HTI Press, 2008.
Mengasuh Anak Menurut Islam
MENGASUH ANAK MENURUT ISLAM
Hadirin Rohimakumullah
Allah SWT berfirman dalam Q.S Luqman:13-19
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤)وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٥)يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (١٦)يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (١٧)وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (١٨)وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (١٩)
Artinya Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS.: Luqman : 13-19)
Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul "agenda persoalan" baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya. Dalam kehidupan manusia, baik ank-anak berlanjut samapi masa dewasa tentu banyak terjadi ha-hal yang tidak diinginkan,seperti kemungkaran keteledoran ataupun kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Dalam hal inilah orang tua terlibat langsunag dengan mereka, maka mereka berkewajiban mengubah perilaku sang anak.
Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan . Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya Allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orengtuanya. Upaya dalam mendidik anak dalam naungan Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian.
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.
Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad). Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah.
Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan
goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal islam secara utuh.
Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan, sebagaimana sabda Rasul SAW:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi." (Hr.Bukhari).
Dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua Muslim dalam mendidik anak:
a. Orang tua perlu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
b. Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
c. Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
d. Sebelum mentransfer ilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat.
e. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal Al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain. Memang usaha mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua.
f. Saudar-saudaraku sekalian, inilah sekarang paling menjadi masalah bagi peradaban kita. Kita mempunyai anak, dia memiliki gelar yang bagus, sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tapi akhlaknya jelek, maka tidak ada artinya. Allah berfirman dalam Q.S Al-kahf:46
Sesuai dengan ayat ini, kita sadar bahwa masyarakat Islam, setiap anggota harus melaksanakan kewajibanya pada yang lain. Adapun tugas orang tua adalah untuk mendidik, menanamkan rasa disiplin dan tingkah laku yang lebih baik ditengah-tengah anak-anak,dan merupakan tugas anak-anak untuk mentaati, menunjukkan rasa hormat, dan mengikuti nasehat mereka selama nasehat tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah Nabi. sungguh Islam dengan kuat merasakan adanya ketergantungan berat seorang anak terhadap para orang tua dan peranan mereka menentukan dalam membentuk kepribadian anak.
Hadirin rohimakumullah
Dalam satu riwayat diceritakan:,
Suatu hari Dengan tergopoh-gopoh, isteri Al-Qamah menghadap Rasulullah SAW mengabarkan suaminya sakit keras. Beberapa hari mengalami naza' tapi tak juga sembuh. "Aku sangat kasihan kepadanya ya Rasulullah," ratap perempuan itu. Mendengar pengaduan wanita itu Nabi SAW merasa iba di hati. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk keadaan Al-Qamah. Keadaan Al-Qamah memang sudah dalam keadaan koma. Sahabat Bilal lalu menuntunnya membacakan tahlil di telinganya, anehnya seakan-akan mulut Al-Qamah rapat terkunci. Berulang kali dicoba, mulut itu tidak mau membuka sedikitpun. Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Al-Qamah. "Sudah kau coba menalqin di telinganya?" tanya Nabi."Sudah Rasulullah, tetapi mulut itu tetap terbungkam rapat," jawabnya." Biarlah aku sendiri datang ke sana", kata Nabi. Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :"Masihkah kedua orang tuanya?" tanya Nabi.
"Masih ya Rasulullah," tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta," jawab isterinya."
Di mana dia sekarang?"
"Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini."
Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah. "Biarlah dia rasakan sendiri", ujar ibu Al-Qamah. "Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?" tanya Nabi.
"Dia berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.”Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosanaknya," bujuk Nabi.
"Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri," kata ibu itu.
"Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir," kata Rasulullah."Biarlah dia ke neraka dengan dosanya," jawab ibu itu. Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : "Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," perintah Nabi.”Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah," tanya Bilal keheranan."Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit", jawab Rasulullah. Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, "Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku," ratapnya. Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.
Dari cerita diatas menunjukkan bahwa untuk menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas orang tua. Janaganlah sepenuhnya menyalahkan si anak, tapi sudahkah kita intropeksi diri,melatih segala tindakanya sebagaimana pribadi Rasul, menanamkan nilai-nilai Islam kepadanya serta menciptakan keluarga yang Islami jadi Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak,agar anak mengerti atas hak dan kewajibanya.
DAFTAR PUSTAKA
Jumantoro,Totok. Psikologi Dakwah, Wonosobo:Amzah,2001
Abdullah Gymnastiar, Manajemen Qolbu, Bandung,: Bundel UGLY,2002
Azkiya,Ummu.Mendidik Anak Taat Syariah, Jakarta: HTI Press, 2008.
Hadirin Rohimakumullah
Allah SWT berfirman dalam Q.S Luqman:13-19
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤)وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٥)يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (١٦)يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (١٧)وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (١٨)وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (١٩)
Artinya Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS.: Luqman : 13-19)
Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul "agenda persoalan" baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya. Dalam kehidupan manusia, baik ank-anak berlanjut samapi masa dewasa tentu banyak terjadi ha-hal yang tidak diinginkan,seperti kemungkaran keteledoran ataupun kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Dalam hal inilah orang tua terlibat langsunag dengan mereka, maka mereka berkewajiban mengubah perilaku sang anak.
Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan . Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya Allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orengtuanya. Upaya dalam mendidik anak dalam naungan Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian.
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.
Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad). Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah.
Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan
goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal islam secara utuh.
Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan, sebagaimana sabda Rasul SAW:
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi." (Hr.Bukhari).
Dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua Muslim dalam mendidik anak:
a. Orang tua perlu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
b. Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
c. Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
d. Sebelum mentransfer ilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat.
e. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal Al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain. Memang usaha mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua.
f. Saudar-saudaraku sekalian, inilah sekarang paling menjadi masalah bagi peradaban kita. Kita mempunyai anak, dia memiliki gelar yang bagus, sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tapi akhlaknya jelek, maka tidak ada artinya. Allah berfirman dalam Q.S Al-kahf:46
Sesuai dengan ayat ini, kita sadar bahwa masyarakat Islam, setiap anggota harus melaksanakan kewajibanya pada yang lain. Adapun tugas orang tua adalah untuk mendidik, menanamkan rasa disiplin dan tingkah laku yang lebih baik ditengah-tengah anak-anak,dan merupakan tugas anak-anak untuk mentaati, menunjukkan rasa hormat, dan mengikuti nasehat mereka selama nasehat tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah Nabi. sungguh Islam dengan kuat merasakan adanya ketergantungan berat seorang anak terhadap para orang tua dan peranan mereka menentukan dalam membentuk kepribadian anak.
Hadirin rohimakumullah
Dalam satu riwayat diceritakan:,
Suatu hari Dengan tergopoh-gopoh, isteri Al-Qamah menghadap Rasulullah SAW mengabarkan suaminya sakit keras. Beberapa hari mengalami naza' tapi tak juga sembuh. "Aku sangat kasihan kepadanya ya Rasulullah," ratap perempuan itu. Mendengar pengaduan wanita itu Nabi SAW merasa iba di hati. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk keadaan Al-Qamah. Keadaan Al-Qamah memang sudah dalam keadaan koma. Sahabat Bilal lalu menuntunnya membacakan tahlil di telinganya, anehnya seakan-akan mulut Al-Qamah rapat terkunci. Berulang kali dicoba, mulut itu tidak mau membuka sedikitpun. Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Al-Qamah. "Sudah kau coba menalqin di telinganya?" tanya Nabi."Sudah Rasulullah, tetapi mulut itu tetap terbungkam rapat," jawabnya." Biarlah aku sendiri datang ke sana", kata Nabi. Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :"Masihkah kedua orang tuanya?" tanya Nabi.
"Masih ya Rasulullah," tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta," jawab isterinya."
Di mana dia sekarang?"
"Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini."
Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah. "Biarlah dia rasakan sendiri", ujar ibu Al-Qamah. "Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?" tanya Nabi.
"Dia berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.”Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosanaknya," bujuk Nabi.
"Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri," kata ibu itu.
"Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir," kata Rasulullah."Biarlah dia ke neraka dengan dosanya," jawab ibu itu. Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : "Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," perintah Nabi.”Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah," tanya Bilal keheranan."Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit", jawab Rasulullah. Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, "Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku," ratapnya. Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.
Dari cerita diatas menunjukkan bahwa untuk menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas orang tua. Janaganlah sepenuhnya menyalahkan si anak, tapi sudahkah kita intropeksi diri,melatih segala tindakanya sebagaimana pribadi Rasul, menanamkan nilai-nilai Islam kepadanya serta menciptakan keluarga yang Islami jadi Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak,agar anak mengerti atas hak dan kewajibanya.
DAFTAR PUSTAKA
Jumantoro,Totok. Psikologi Dakwah, Wonosobo:Amzah,2001
Abdullah Gymnastiar, Manajemen Qolbu, Bandung,: Bundel UGLY,2002
Azkiya,Ummu.Mendidik Anak Taat Syariah, Jakarta: HTI Press, 2008.
Peran Pemuda Untuk Masa Depan Umat
PERAN PEMUDA UNTUK MASA DEPAN UMAT
Kemajuan, perkembangan suatu agama amatlah dipengaruhi oleh peran serta umatnya. Kita dapat belajar dari sejarah, bahwa suatu bangsa yang telah mengikuti suatu agama justru menjadi suatu penghambat bagi agama itu sendiri, karena tidak ada tanggung jawab terhadap agamanya. Agama itu dapat menjadi lenyap dari masyarakat tersebut.
Karena itu sewajarnyalah umat beragama itu menjadi penolong agamanya sendiri. Beruntunglah kita sebagai umat Islam, kesadaran dan tanggung jawab terhadap agamaitu mendapat tempat penting dalam ajaran agama, bahkan diperintahkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya (Q.S Ash Shaf:14):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ (١٤)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
Yang bertanggung jawab terhadap agama antara lain dapat dilaksanakan dengan mengadakan dakwah, sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Rasullah dan para sahabat atau berfirman dalam Qs An Nahl :125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥)
Artinya : Telah pasti datangnya ketetapan Allah Maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
Al- Quran dan hadist Rasul SAW banyak memerintahkan agar umat Islam bertanggungjawab terhadap agama dengan menggunakan jihad fisabilillah. Yang dimaksud dengan jihad fisabilillah itu menuangkan sagala kemampuan dan kesempatan untuk menjadikan agama Allah SWT bias dihayati dan diamalkan dengan sebaik-baiknya, sehingga keberadaannya semakin berkembang dan semarak. Jadi jihad bukan hanya berarti perang. Jihad adalah segaka usaha baik yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Adanya perintah jihad fisabilillah antara lain firman Allah:(Q.S Attaubah:20)
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
Artinya :Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Bertanggung jawab terhadap agama berarti giat melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung syiar dan pengamalan agama Islam.
Generasi muslim yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Ini bukan Amerika juga bukan Eropa tapi ini Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Indonesia yang maju karena mau berdzikir, Indonesia yang maju karena mau berfikir, Indonesia yang maju karena mau bersatu. Pemuda adalah harapan masa depan untuk mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik,jadi kalau pemuda-pemudinya beriman negara aman, kalau pemuda-pemudinya sehat negara kuat,kalau pemuda-pemudinya pintar negara maju tapi kalau pemuda-pemudinya selalu pacaran maka negara hancur.
Apabila kita bicara tentang kaum muda, kita sering dapati dalam banyak artikel kita sendiri bahkan menyaksikan peran partisipasi pemuda yang besar dalam membangun, menyumbang dan mendukung perkembangan bangsa,nah Itulah pemuda harapan bangsa yang akan berjuang dimasa depan negara yang lebih cerah. Demikian juga, mereka dalam waktu yang sama merupakan harapan Islam, yang akan berjuang demi ajaran Islam di hari esok, yang akan mempertahankan undang-undang Islam, yang akan melindungi generasi muda Islam secara luas dari pengaruh gaya hidup barat yang merusak, yang akan menjadi seorang pemimpin pada masa selanjutnya.
Pernyataan ini mendorong kita untuk memperhatikan eksistensi pemuda di masa yang akan datang. Dengan mengetahui semua fakta, kita sadar, betapa penting peran pemuda untuk masa depan. Pemuda dianggap melambangkan keberanian yang tidak pernah luntur, redup, kekuatan yang tidak mudah hancur. Karena alasan ini presiden pertama, Soekarno suatu ketika pernah berkata : BERIKAN KEPADAKU SEPULUH PEMUDA AKAN KUGONCANGAN DUNIA. Dari pernyataan ini dapt menyimpulkan bahwa Soekarno lebih menghargai pemuda ketimbang orang tua. Mengapa? Karena mereka memainkan peranan yang jitu dan mempunyai potensi serta energi besar yang dapat dibanggakan.menjaga akhlak bangsa adalah bagian dari tugas umat Islam,sebab akhlak adalah bagian dari hukum syariah yang harus diterapkan. Dalam konteks inilah, Kiranya umat bangkit bergerak bersatu dalam satu barisan Aksi sejuta umat, Lindungi akhlak bangsa dan wujudkan Indonesia bermartabat.
Saudara-saudaraku sekalian
Indonesia dengan hampir 200 juta umat Islam, kalau saja bisa memiliki pemimpin yang sangat tangguh akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikut. Kalau pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Para pengikut menduplikasi pemimpinnya. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pimpinan kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula umatnya. Kalau kita lihat kondisi bangsa kita sekarang jangan pesimis, kalau kita tidak bisa memimpin sekarang, mudah-mudahan generasi kita yang akan datang akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas tinggi
Apakah pemimpin itu lahir begitu saja? Kalau singa, sudah dilahirkan menjadi raja hutan, tetapi manusia ada yang memiliki bakat menjadi pemimpin, belum tentu dapat memimpin dengan baik kalau tidak disertai dengan ilmu. Menurut analisa di Indonesia, ada jenis pemimpin ulama pesantrenan: dibesarkan di pesantren, ilmu agamanya luas, tapi kelemahannya kata para ahli adalah dalam bidang manajemen, sehingga sulit untuk mengurus sesuatu yang besar. Ada juga yang birokrat: aktif di islam, kemampuan organisasinya bagus tetapi pendalaman agamanya belum mantap. Ada tipe mubaligh yang seperti selebritis: dia ceramahnya bagus, diliput media massa, akhirnya jadi terkenal dimana-mana, dijadikan idola, tetapi kadang-kadang kurang mengakar dalam menggerakkan masyarakat. Yang kita impikan adalah yang seperti Rasul, dia mumpuni dalam keilmuannya, berkemampuan dalam manajemen, beliau juga punya kemampuan membangun opini di masyarakat .Dengan dasar "Setiap diantaramu adalah pemimpin", Setiap kepemimpinan akan ditanya oleh Allah. Semua pemimpin termasuk pemimpin rumah tangga tidak terkecuali. Berikut rumus sederhana untuk menjadi pemimpin yang dicintai.
Pemimpin itu bukan yang mengerjakan segalanya sendiri, kalau ia melakukannya sendiri akan gagal ia memimpin. Kalau kita ingin untung sendiri akan sengsara akhirnya, karena kita sering merasa untung jika kita untung sendiri, padahal keuntungan sebenarnya bagi kita adalah jika kita menjadi jalan keuntungan bagi orang lain.
Apakah rahasia utama kepemimpinan? Jawabannya adalah : kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan dari kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Maka jika ingin menjadi pemimpin yang baik, jangan pikirkan orang lain, pikirkan diri sendiri dulu. Tidak akan bisa mengubah orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri. Bangunan ini bagus, kokoh, megah karena ada pondasinya. Maka sibuk memikirkan membangun umat, membangun masyarakat, merubah dunia akan menjadi omong kosong kalau tidak diawali dengan diri sendiri.Jadi kalau kita berangan-angan ingin jadi pemimpin jangan memikirkan bawahan, pikirkan saja diri kita dulu. Merubah orang lain tanpa merubah diri sendiri adalah mimpi Mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri adalah omong kosong. Misalnya ketika sedang rapat kita sombong, berapa banyak potensi yang tidak bisa keluar hanya karena pemimpinannya sombong. Rapat yang dipimpin dengan emosional akan banyak potensi solusi yang tidak dapat keluar karena pemimpinnya emosional. Makanya seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Hadirin yang berbahagia
Rasulullah SAW adalah suri tauladan. Ketika Rasul mengajak jihad, beliau langsung ada di barisan paling depan. Bahkan Imam Ali mengatakan kalau pertempuran sudah berkecamuk begitu dashyat maka kami berlindung di balik Rasul. Beliau itu bertempur paling depan, bersedekah seperti angin dan hidup bersahaja. Ketika Rasul menyuruh bertahajud, kakinya sampai bengkak. Ketika Rasul menyuruh shaum perutnya sampai diganjal dengan batu. Ketika Rasul menyuruh orang berakhlak mulia, beliaulah yang akhlaknya paling mulia. Apapun yang beliau katakana kepada umatnya, pasti beliau lakukan. Itulah sebabnya ribuan tahun sampai kini, ribuan kilometer jaraknya, masih tetap kuat pengaruhnya. Kepemimpinan itu adalah pengaruh. Siapa yang pengaruhnya paling kuat dialah yang kepemimpinannya paling kuat. Jika kita ingin menyelamatkan orang lain harus terlebih dahulu menyelamatkan diri. Bagaimana mungkin menyelamatkan orang lain, kalu diri tidak selamat. Selamatkan diri kita agar punya kemampuan menyelamatkan orang lain. Kita tidak akan dapat menolong orang lain kalau kitanya rusak.
Rahasia lainnya, pemimpin dalam Islam itu adalah pelayan umat. Jadi kalau diilustrasikan lewat piramida, piramidanya seperti piramida terbalik, dan pemimpin adalah yang di bawah. Maka siapapun yang menjadi pemimpin, dia harus mengeluarkan pengorbanan yang paling besar dibanding dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin harus berpikir keras, sekuat-kuatnya untuk memajukan orang yang dipimpinnya. Ini baru pemimpin sukses.hal ini dapat dicontohkan dengan perangai dan budi luhur Nabi Muhammad SAW dalam sikap beliau bernelas kasih kepada umatnya.
Salah satu riwayat menceritakan. Bahwa tatkala kaum Quraisy kian mengganyang dan mendustakan ajaranya. Jibril datang menyampaikan kepadanya, bahwa Allah telah mendengar apa yang telah diucapkan oleh kaummu,”Yaa Muhammad betapa bengis dan kejam cara penolakan mereka kepadamu.” Maka telah diperintahkan kepada malaikat penjaga gunung sekelilinga makkah, agar siap menunggu perintahmu, untuk melakukan apa saja yamg kau kehendaki. Tidak lama kemudian datanglah beberapa malaikat lain dan setelah memberi salam, berkata kepada beliau: perintahakan saja apa yang engkau kehendaki. Kalau engkau azinkan kami siap menjungkirkan kedua gunung itu diatas mereka.
“Tidak! Tidak!” jawab Nabi SAW tegas. Aku tetap mengharap semoga Allah SWT kelak mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka keturunan yang beriman kepada Allah SWT dan tidak menyekutukaNya kepada yang lain.sambung Nabi SAW sebagai jawaban terhadap tawaran malaikat itu. Nah dari riwayat tersebut maka kita bisa mengambil contoh bahwa menjadi seorang pemimpin harus memiliki kesabaran,tidak mudah emosi dan mampu memberikan keputusan yang bijak dalam menyikapi persoalan umat. Jadi Pemimpin yang sukses adalah yang selalu berpikir menjadi manfaat yang paling besar bagi orang lain. Hal yang pertama adalah bagaimana orang yang kita pimpin jadi ahli ibadah. Sebab kalau yang kita pimpin jauh dari Allah, siapa lagi yang akan menolong. Jadi ini penting sekali untuk meningkatkan ibadah, sebab pemimpin bukan pemberi uang, pemimpin bukan penolong. Allahlah yang menolong. Kalau yang memimpin durhaka kita yang mengikuti akan ketiban pulungnya. Maka pemimpin yang baik harus berpikir keras bagaimana pengikutnya mendapat ilmu agama, atau dimotivasi untuk ibadah dan sinergi dengan doa.
.
DAFTAR PUSTAKA
Depag, Pendidikan Agama Islam, Bandung: Lubuk Agung, 1994.
Al-khathath,Muhammad. Kekuatan umat ,Majalah Al-wa’ie, 2006
Tim Al-Haromain,Kesempurnaan Perangai dan Budi Luhur Nabi Muhammad SAW, Surabaya, Majalah Al-Haromain,2008
Kemajuan, perkembangan suatu agama amatlah dipengaruhi oleh peran serta umatnya. Kita dapat belajar dari sejarah, bahwa suatu bangsa yang telah mengikuti suatu agama justru menjadi suatu penghambat bagi agama itu sendiri, karena tidak ada tanggung jawab terhadap agamanya. Agama itu dapat menjadi lenyap dari masyarakat tersebut.
Karena itu sewajarnyalah umat beragama itu menjadi penolong agamanya sendiri. Beruntunglah kita sebagai umat Islam, kesadaran dan tanggung jawab terhadap agamaitu mendapat tempat penting dalam ajaran agama, bahkan diperintahkan oleh Allah SWT dengan firman-Nya (Q.S Ash Shaf:14):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ (١٤)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
Yang bertanggung jawab terhadap agama antara lain dapat dilaksanakan dengan mengadakan dakwah, sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Rasullah dan para sahabat atau berfirman dalam Qs An Nahl :125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥)
Artinya : Telah pasti datangnya ketetapan Allah Maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
Al- Quran dan hadist Rasul SAW banyak memerintahkan agar umat Islam bertanggungjawab terhadap agama dengan menggunakan jihad fisabilillah. Yang dimaksud dengan jihad fisabilillah itu menuangkan sagala kemampuan dan kesempatan untuk menjadikan agama Allah SWT bias dihayati dan diamalkan dengan sebaik-baiknya, sehingga keberadaannya semakin berkembang dan semarak. Jadi jihad bukan hanya berarti perang. Jihad adalah segaka usaha baik yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Adanya perintah jihad fisabilillah antara lain firman Allah:(Q.S Attaubah:20)
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
Artinya :Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Bertanggung jawab terhadap agama berarti giat melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung syiar dan pengamalan agama Islam.
Generasi muslim yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Ini bukan Amerika juga bukan Eropa tapi ini Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Indonesia yang maju karena mau berdzikir, Indonesia yang maju karena mau berfikir, Indonesia yang maju karena mau bersatu. Pemuda adalah harapan masa depan untuk mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik,jadi kalau pemuda-pemudinya beriman negara aman, kalau pemuda-pemudinya sehat negara kuat,kalau pemuda-pemudinya pintar negara maju tapi kalau pemuda-pemudinya selalu pacaran maka negara hancur.
Apabila kita bicara tentang kaum muda, kita sering dapati dalam banyak artikel kita sendiri bahkan menyaksikan peran partisipasi pemuda yang besar dalam membangun, menyumbang dan mendukung perkembangan bangsa,nah Itulah pemuda harapan bangsa yang akan berjuang dimasa depan negara yang lebih cerah. Demikian juga, mereka dalam waktu yang sama merupakan harapan Islam, yang akan berjuang demi ajaran Islam di hari esok, yang akan mempertahankan undang-undang Islam, yang akan melindungi generasi muda Islam secara luas dari pengaruh gaya hidup barat yang merusak, yang akan menjadi seorang pemimpin pada masa selanjutnya.
Pernyataan ini mendorong kita untuk memperhatikan eksistensi pemuda di masa yang akan datang. Dengan mengetahui semua fakta, kita sadar, betapa penting peran pemuda untuk masa depan. Pemuda dianggap melambangkan keberanian yang tidak pernah luntur, redup, kekuatan yang tidak mudah hancur. Karena alasan ini presiden pertama, Soekarno suatu ketika pernah berkata : BERIKAN KEPADAKU SEPULUH PEMUDA AKAN KUGONCANGAN DUNIA. Dari pernyataan ini dapt menyimpulkan bahwa Soekarno lebih menghargai pemuda ketimbang orang tua. Mengapa? Karena mereka memainkan peranan yang jitu dan mempunyai potensi serta energi besar yang dapat dibanggakan.menjaga akhlak bangsa adalah bagian dari tugas umat Islam,sebab akhlak adalah bagian dari hukum syariah yang harus diterapkan. Dalam konteks inilah, Kiranya umat bangkit bergerak bersatu dalam satu barisan Aksi sejuta umat, Lindungi akhlak bangsa dan wujudkan Indonesia bermartabat.
Saudara-saudaraku sekalian
Indonesia dengan hampir 200 juta umat Islam, kalau saja bisa memiliki pemimpin yang sangat tangguh akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikut. Kalau pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Para pengikut menduplikasi pemimpinnya. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pimpinan kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula umatnya. Kalau kita lihat kondisi bangsa kita sekarang jangan pesimis, kalau kita tidak bisa memimpin sekarang, mudah-mudahan generasi kita yang akan datang akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas tinggi
Apakah pemimpin itu lahir begitu saja? Kalau singa, sudah dilahirkan menjadi raja hutan, tetapi manusia ada yang memiliki bakat menjadi pemimpin, belum tentu dapat memimpin dengan baik kalau tidak disertai dengan ilmu. Menurut analisa di Indonesia, ada jenis pemimpin ulama pesantrenan: dibesarkan di pesantren, ilmu agamanya luas, tapi kelemahannya kata para ahli adalah dalam bidang manajemen, sehingga sulit untuk mengurus sesuatu yang besar. Ada juga yang birokrat: aktif di islam, kemampuan organisasinya bagus tetapi pendalaman agamanya belum mantap. Ada tipe mubaligh yang seperti selebritis: dia ceramahnya bagus, diliput media massa, akhirnya jadi terkenal dimana-mana, dijadikan idola, tetapi kadang-kadang kurang mengakar dalam menggerakkan masyarakat. Yang kita impikan adalah yang seperti Rasul, dia mumpuni dalam keilmuannya, berkemampuan dalam manajemen, beliau juga punya kemampuan membangun opini di masyarakat .Dengan dasar "Setiap diantaramu adalah pemimpin", Setiap kepemimpinan akan ditanya oleh Allah. Semua pemimpin termasuk pemimpin rumah tangga tidak terkecuali. Berikut rumus sederhana untuk menjadi pemimpin yang dicintai.
Pemimpin itu bukan yang mengerjakan segalanya sendiri, kalau ia melakukannya sendiri akan gagal ia memimpin. Kalau kita ingin untung sendiri akan sengsara akhirnya, karena kita sering merasa untung jika kita untung sendiri, padahal keuntungan sebenarnya bagi kita adalah jika kita menjadi jalan keuntungan bagi orang lain.
Apakah rahasia utama kepemimpinan? Jawabannya adalah : kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan dari kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Maka jika ingin menjadi pemimpin yang baik, jangan pikirkan orang lain, pikirkan diri sendiri dulu. Tidak akan bisa mengubah orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri. Bangunan ini bagus, kokoh, megah karena ada pondasinya. Maka sibuk memikirkan membangun umat, membangun masyarakat, merubah dunia akan menjadi omong kosong kalau tidak diawali dengan diri sendiri.Jadi kalau kita berangan-angan ingin jadi pemimpin jangan memikirkan bawahan, pikirkan saja diri kita dulu. Merubah orang lain tanpa merubah diri sendiri adalah mimpi Mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri adalah omong kosong. Misalnya ketika sedang rapat kita sombong, berapa banyak potensi yang tidak bisa keluar hanya karena pemimpinannya sombong. Rapat yang dipimpin dengan emosional akan banyak potensi solusi yang tidak dapat keluar karena pemimpinnya emosional. Makanya seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Hadirin yang berbahagia
Rasulullah SAW adalah suri tauladan. Ketika Rasul mengajak jihad, beliau langsung ada di barisan paling depan. Bahkan Imam Ali mengatakan kalau pertempuran sudah berkecamuk begitu dashyat maka kami berlindung di balik Rasul. Beliau itu bertempur paling depan, bersedekah seperti angin dan hidup bersahaja. Ketika Rasul menyuruh bertahajud, kakinya sampai bengkak. Ketika Rasul menyuruh shaum perutnya sampai diganjal dengan batu. Ketika Rasul menyuruh orang berakhlak mulia, beliaulah yang akhlaknya paling mulia. Apapun yang beliau katakana kepada umatnya, pasti beliau lakukan. Itulah sebabnya ribuan tahun sampai kini, ribuan kilometer jaraknya, masih tetap kuat pengaruhnya. Kepemimpinan itu adalah pengaruh. Siapa yang pengaruhnya paling kuat dialah yang kepemimpinannya paling kuat. Jika kita ingin menyelamatkan orang lain harus terlebih dahulu menyelamatkan diri. Bagaimana mungkin menyelamatkan orang lain, kalu diri tidak selamat. Selamatkan diri kita agar punya kemampuan menyelamatkan orang lain. Kita tidak akan dapat menolong orang lain kalau kitanya rusak.
Rahasia lainnya, pemimpin dalam Islam itu adalah pelayan umat. Jadi kalau diilustrasikan lewat piramida, piramidanya seperti piramida terbalik, dan pemimpin adalah yang di bawah. Maka siapapun yang menjadi pemimpin, dia harus mengeluarkan pengorbanan yang paling besar dibanding dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin harus berpikir keras, sekuat-kuatnya untuk memajukan orang yang dipimpinnya. Ini baru pemimpin sukses.hal ini dapat dicontohkan dengan perangai dan budi luhur Nabi Muhammad SAW dalam sikap beliau bernelas kasih kepada umatnya.
Salah satu riwayat menceritakan. Bahwa tatkala kaum Quraisy kian mengganyang dan mendustakan ajaranya. Jibril datang menyampaikan kepadanya, bahwa Allah telah mendengar apa yang telah diucapkan oleh kaummu,”Yaa Muhammad betapa bengis dan kejam cara penolakan mereka kepadamu.” Maka telah diperintahkan kepada malaikat penjaga gunung sekelilinga makkah, agar siap menunggu perintahmu, untuk melakukan apa saja yamg kau kehendaki. Tidak lama kemudian datanglah beberapa malaikat lain dan setelah memberi salam, berkata kepada beliau: perintahakan saja apa yang engkau kehendaki. Kalau engkau azinkan kami siap menjungkirkan kedua gunung itu diatas mereka.
“Tidak! Tidak!” jawab Nabi SAW tegas. Aku tetap mengharap semoga Allah SWT kelak mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka keturunan yang beriman kepada Allah SWT dan tidak menyekutukaNya kepada yang lain.sambung Nabi SAW sebagai jawaban terhadap tawaran malaikat itu. Nah dari riwayat tersebut maka kita bisa mengambil contoh bahwa menjadi seorang pemimpin harus memiliki kesabaran,tidak mudah emosi dan mampu memberikan keputusan yang bijak dalam menyikapi persoalan umat. Jadi Pemimpin yang sukses adalah yang selalu berpikir menjadi manfaat yang paling besar bagi orang lain. Hal yang pertama adalah bagaimana orang yang kita pimpin jadi ahli ibadah. Sebab kalau yang kita pimpin jauh dari Allah, siapa lagi yang akan menolong. Jadi ini penting sekali untuk meningkatkan ibadah, sebab pemimpin bukan pemberi uang, pemimpin bukan penolong. Allahlah yang menolong. Kalau yang memimpin durhaka kita yang mengikuti akan ketiban pulungnya. Maka pemimpin yang baik harus berpikir keras bagaimana pengikutnya mendapat ilmu agama, atau dimotivasi untuk ibadah dan sinergi dengan doa.
.
DAFTAR PUSTAKA
Depag, Pendidikan Agama Islam, Bandung: Lubuk Agung, 1994.
Al-khathath,Muhammad. Kekuatan umat ,Majalah Al-wa’ie, 2006
Tim Al-Haromain,Kesempurnaan Perangai dan Budi Luhur Nabi Muhammad SAW, Surabaya, Majalah Al-Haromain,2008
Label:
Al-Quran,
hukum,
manajemen Qolbu,
puasa,
tanggung jawab muslim,
tauhid
Peranan Keluarga Dalam Islam
PERANAN KELUARGA DALAM MASYARAKAT ISLAM
Hadirin Rohimakumullah
Masyarakat Islam tersusun dari individu-individu dan keluarga-keluarga yang di perintah oleh undang-undang yang diberikan oleh Al-Quran dan sunnah. Maka sepatutnya bagi muslim tidak mengabaikan tanggung jawab dalam keluarga. Allah berfirma dalam Q.S Annisa’:19
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (١٩)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak
Terwujudnya bahagia dunia akhirat atau kadang diistilahkan surga dunia akhirat
merupakan impian semua orang. Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu
indah. Padahal sebetulnya? Indah ...sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari
dulu menikah.
Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik. Allah SWT berfirman dalam Q.S Annisa’:34 yang artinya
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena itu Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena itu Allah Telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapai tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Pada kesempatan pertama, insya Allah kita akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kita.
1. Siap dengan hal yang tidak kita duga
Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama "gelombangnya" dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan., misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.
2. Memperbanyak pesan
Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memperbanyak pesan, “aku”. Sebab, umumnya makin orang lain mengetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan "Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,.... jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok." Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: "Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu."
Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akaibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yag kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku. Dengan demikian ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain. Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: "Pak... saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak...kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak..."
Hadirin Rohimakumullah
Makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing , Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi. Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan. Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri.
Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.
3. Tentang aturan
Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus...sosialisasikan!
Firman Allah dalam Q.S Azzukhruf:18
أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ (١٨)
Artinya : Dan Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam Keadaan berperhiasan sedang Dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.
Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.
Hadirin Rohimakumullah
Dalam satu riwayat diceritakan,pada suatu hari ketika salman Al-farisi tengah mengunjungi kediaman Abu darda’ dia melihat isteri abu darda’ bermuram durja,ketika ditanya apa yang membuatnya nampak sedih?isteri abu darda’ berkata bahwa dia menghawatirkan suaminya yang begitu asyiknya memperbanyak ibadah tetapi agaknya menjadi kurang perhatian pada urusan keluarga. Maka salman pun meminta izin abu darda’ untuk bermalam dan memperoleh izain saat tinggal dirumah abu darda’, salman disuguhi makanan yang enak, dan dipersilahkan makan. Namun abu darda’ sendiri tidak bersiap maka karena tengah berpuasa. Maka salmanpun berkata,”aku tidak akan makan kecuali engkaupun ikut makan.” Abu darda’ menjelaskan bahwa dia tengah berpuasa sunnah dan meminta Salman untuk makan sendiri. Namun salman yang tahu bahwa sudah berhari-hari puasa sunnah berkeras pula tidak akan makan kecuali ditemani makan, hingga Abu Darda’pun akhirnya menemaninya makan. Begitu pula dimalam hari,ketika hari sudah larut, Abu Darda’ yanag tengah bersiap-siap untuk sholat malam melihat tamunya belum tidur. Maka Abu Darda’ pun meminat Salman untuk beristirahat dan tidur.tetapi Salman lagi-lagi berkata, “Aku tidak akan tidur kecuali engkaupun tidur.” Abu darda’ menjelaskan bahw dia telah terbiasa melakukan ibadah disepanjang malam dan karenanya mempersilahkan Salman untuk tidur saja namun salman berkeras tidak akan tidur kalau dia melihat abu darda’pun tidak tidur. Maka akhirnya abu dardapun tidur malam itu. Begitu,pada hari trakhir Salman menginap, dia menasehati sahabatny Abu Darda’, ”saudaraku, sungguh luar biasa baiknya ibadah-ibadah yang engkau lakukan. Semoga Allah menerima semua amal ibadahmu namun ingatlah bahwa Rosulullah SAW sendiri telah mengingatkan bahkan diri kita, keluarga kita sendiripunya hak yang harus ditunaikan dan diperhatikan,” Salman dengan penuh kelembutan mengingatkan Abu Darda’ untuk tidak setiap hari berpuasa dan setiap hari shalat malam tetapi juga menyisihkan hari-hari agar dapat makan bersama keluarga dan beristirahat bersama keluarga diwaktu malam. Karena contoh langsung dari Salman ini, Abu Darda’ pun tersadar bahwa dia hampir saja melalaikan kebersamaan dalam keluarganya.
Dari riwayat diatas maka jelas bahwa kita sebagai muslim sepatutnya tidak melalaikan dan meninggalakan tanggung jawab terhadap keluarga meskipun dalam hal keluarga karena semua itu adalah merupakan tanggung jawab terhadap agama.
Daftar pustaka
Gymnastyar,Abdullah. Rumah Tangga Yang Menyenagkan, Bandung , Bundel UGLY, 2002
Jamil,Zilvera. Kisah Islami, Bandung, Majalah Ummi, 2008
Khasbullah, Azizi. Keluarga Bahagia, Blitar, Hidayatul Mubtadi’at, 2005
Hadirin Rohimakumullah
Masyarakat Islam tersusun dari individu-individu dan keluarga-keluarga yang di perintah oleh undang-undang yang diberikan oleh Al-Quran dan sunnah. Maka sepatutnya bagi muslim tidak mengabaikan tanggung jawab dalam keluarga. Allah berfirma dalam Q.S Annisa’:19
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (١٩)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak
Terwujudnya bahagia dunia akhirat atau kadang diistilahkan surga dunia akhirat
merupakan impian semua orang. Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu
indah. Padahal sebetulnya? Indah ...sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari
dulu menikah.
Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik. Allah SWT berfirman dalam Q.S Annisa’:34 yang artinya
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena itu Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena itu Allah Telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapai tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda.
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah
Pada kesempatan pertama, insya Allah kita akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kita.
1. Siap dengan hal yang tidak kita duga
Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama "gelombangnya" dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan., misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.
2. Memperbanyak pesan
Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memperbanyak pesan, “aku”. Sebab, umumnya makin orang lain mengetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan "Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,.... jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok." Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: "Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu."
Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akaibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yag kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku. Dengan demikian ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain. Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: "Pak... saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak...kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak..."
Hadirin Rohimakumullah
Makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing , Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi. Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan. Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri.
Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.
3. Tentang aturan
Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus...sosialisasikan!
Firman Allah dalam Q.S Azzukhruf:18
أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ (١٨)
Artinya : Dan Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam Keadaan berperhiasan sedang Dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.
Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.
Hadirin Rohimakumullah
Dalam satu riwayat diceritakan,pada suatu hari ketika salman Al-farisi tengah mengunjungi kediaman Abu darda’ dia melihat isteri abu darda’ bermuram durja,ketika ditanya apa yang membuatnya nampak sedih?isteri abu darda’ berkata bahwa dia menghawatirkan suaminya yang begitu asyiknya memperbanyak ibadah tetapi agaknya menjadi kurang perhatian pada urusan keluarga. Maka salman pun meminta izin abu darda’ untuk bermalam dan memperoleh izain saat tinggal dirumah abu darda’, salman disuguhi makanan yang enak, dan dipersilahkan makan. Namun abu darda’ sendiri tidak bersiap maka karena tengah berpuasa. Maka salmanpun berkata,”aku tidak akan makan kecuali engkaupun ikut makan.” Abu darda’ menjelaskan bahwa dia tengah berpuasa sunnah dan meminta Salman untuk makan sendiri. Namun salman yang tahu bahwa sudah berhari-hari puasa sunnah berkeras pula tidak akan makan kecuali ditemani makan, hingga Abu Darda’pun akhirnya menemaninya makan. Begitu pula dimalam hari,ketika hari sudah larut, Abu Darda’ yanag tengah bersiap-siap untuk sholat malam melihat tamunya belum tidur. Maka Abu Darda’ pun meminat Salman untuk beristirahat dan tidur.tetapi Salman lagi-lagi berkata, “Aku tidak akan tidur kecuali engkaupun tidur.” Abu darda’ menjelaskan bahw dia telah terbiasa melakukan ibadah disepanjang malam dan karenanya mempersilahkan Salman untuk tidur saja namun salman berkeras tidak akan tidur kalau dia melihat abu darda’pun tidak tidur. Maka akhirnya abu dardapun tidur malam itu. Begitu,pada hari trakhir Salman menginap, dia menasehati sahabatny Abu Darda’, ”saudaraku, sungguh luar biasa baiknya ibadah-ibadah yang engkau lakukan. Semoga Allah menerima semua amal ibadahmu namun ingatlah bahwa Rosulullah SAW sendiri telah mengingatkan bahkan diri kita, keluarga kita sendiripunya hak yang harus ditunaikan dan diperhatikan,” Salman dengan penuh kelembutan mengingatkan Abu Darda’ untuk tidak setiap hari berpuasa dan setiap hari shalat malam tetapi juga menyisihkan hari-hari agar dapat makan bersama keluarga dan beristirahat bersama keluarga diwaktu malam. Karena contoh langsung dari Salman ini, Abu Darda’ pun tersadar bahwa dia hampir saja melalaikan kebersamaan dalam keluarganya.
Dari riwayat diatas maka jelas bahwa kita sebagai muslim sepatutnya tidak melalaikan dan meninggalakan tanggung jawab terhadap keluarga meskipun dalam hal keluarga karena semua itu adalah merupakan tanggung jawab terhadap agama.
Daftar pustaka
Gymnastyar,Abdullah. Rumah Tangga Yang Menyenagkan, Bandung , Bundel UGLY, 2002
Jamil,Zilvera. Kisah Islami, Bandung, Majalah Ummi, 2008
Khasbullah, Azizi. Keluarga Bahagia, Blitar, Hidayatul Mubtadi’at, 2005
Senin, 13 April 2009
kata-kata bijak
Hargailah orang-orang yang merlakukan pekerjaan besar meskipun ia gagal
Murny listyawaty
Jangan sewkali-kali berorientasi pada hasil karena hidup adalah sebuah rangkaian proses. Allah tidak pernah menilai dari proses tapi dari hasil
kiki Andreasmita
orang kaya bukan karena uang tapi karena bisa mengelola uang
kiky Andreasmita
Murny listyawaty
Jangan sewkali-kali berorientasi pada hasil karena hidup adalah sebuah rangkaian proses. Allah tidak pernah menilai dari proses tapi dari hasil
kiki Andreasmita
orang kaya bukan karena uang tapi karena bisa mengelola uang
kiky Andreasmita
Label:
Al-Quran,
hukum,
kata mutiara,
manajemen Qolbu,
puasa,
tanggung jawab muslim,
tauhid
kata-kata Bijak
Hargailah orang-orang yang melakukan pekerjaan besar meski ia gagal
Murni listyowaty
Jangan pernah berorientasi pada hasil karen hidup adalah sebuah rangkaian proses.
Allah tidak menilai dari hasil tapi dari proses
kiky Andreasmita
orang bisa kaya bukan karena uang tapi karena bisa mengelola uang
kiky Andreasmita
Murni listyowaty
Jangan pernah berorientasi pada hasil karen hidup adalah sebuah rangkaian proses.
Allah tidak menilai dari hasil tapi dari proses
kiky Andreasmita
orang bisa kaya bukan karena uang tapi karena bisa mengelola uang
kiky Andreasmita
Label:
Al-Quran,
hukum,
kata mutiara,
manajemen Qolbu,
puasa,
tanggung jawab muslim,
tauhid
Langganan:
Postingan (Atom)
